MAKALAH AQIDAH

All posts in the MAKALAH AQIDAH category

MAKALAH AGAMA ISLAM TENTANG AKHLAK (AKIDAH SEBAGAI DASAR PENDIDIKAN AKHLAK)

Published May 2, 2008 by Admin

cREATED : Drs. Abd. Rohim
School : PAsca STAIN Cirebon
Editor : anakciremai.blogspot.com

AKIDAH SEBAGAI DASAR PENDIDIKAN AKHLAK

Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah akidah yang benar terhadap alam dan kehidupan, karena akhlak tersarikan dari akidah dan pancaran dirinya. Oleh karena itu, jika seseorang berakidah dengan benar, niscaya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika akidah salah dan melenceng maka akhlaknya pun akan tidak benar.
Akidah seseorang akan benar dan lurus jika kepercayaan dan keyakinannya terhadap Allah juga lurus dan benar. Karena barang siapa mengetahui Sang Penciptanya dengan benar, niscaya ia akan dengan mudah berperilaku baik sebagaimana perintah Allah. Sehingga ia tidak mungkin menjauh atau bahkan meninggalkan perilaku-perilaku yang telah ditetapkan-Nya.
Adapun yang dapat menyempurnakan akidah yang benar terhadap Allah adalah berakidah dengan benar terhadap malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya yang diturunkan kepada para Rasul dan percaya kepada Rasul-rasul utusan-Nya yang mempunyai sifat jujur dan amanah dalam menyampaikan risalah Tuhan Mereka.
Keyakinan terhadap Allah, Malaikat, Kitab, dan para Rasul-rasul-Nya berserta syariat yang mereka bawa tidak akan dapat mencapai kesempurnaan kecuali jika disertai dengan keyakinan akan adanya hari Ahkir dan kejadian-kejadian yang menggiringnya seperti hari kebangkitan, pengmpulan, perhitungan amal dan pembalasan bagi yang taat serta yang durhak dengan masuk surga atau masuk neraka.
Di samping itu, akidah yang benar kepada Allah harus diikuti pula dengan akidah atau kepercayaan yang benar terhadap kekuatan jahat dan setan. Merekalah yang mendorong manusia untuk durhaka kepada Tuhannya. Mereka menghiasi manusia dengan kebatilan dan syahwat. Merekalah yang merusak hubungan baik yang telah terjalin di antara sesamanya. Demikianlah tugas –tugas setan sesuai dengan yang telah digariskan Allah dalam penciptaannya, agar dia dapat memberikan pahala kepada orang-orang yang tidak mengikuti setan dan menyiksa orang yang menaatinya. Dan semua ini berlaku setelah Allah memerpingatkan

umat manusia dan mengancam siapa saja yang mematuhinya setan tersebut.
Pendidikan akhlak yang bersumber dari kaidah yang benar merupakan contoh perilaku yang harus diikuti oleh manusia. Mereka harus mempraktikannya dalam kehidupan mereka, karena hanya inilah yang akan mengantarkan mereka mendapatkan ridha Allah dan akan membawa mereka mendapatkan balasan kebaikan dari Allah.
Ketidakberesan dan adanya keresahan yang selalu menghiasi kehidupan manusia timbul sebagai akibat dari penyelewengan terhadap akhlak –akhlak yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Penyelewengan ini tidak akan mungkin terjadi jika tidak ada kesalahan dalam berakidah, baik kepada Allah. Malikat, rasul, kitab-kitab-Nya maupun hari Akhir.
Untuk menjaga kebenaran pendidikan akhlak dan agar seseorang selalu dijalan Allah yang lurus, yaitu jalan yang sesuai dengan apa yang telah digariskan-Nya, maka akidah harus dijadikan dasar pendidikan akhlak manusia.

DEFINISI AKHLAK

1.Menurut Imam Abu Hamid Al-Gazali
Kata al-khalq ‘Fisik’ dan al-khuluq ‘akhlak’ adalah dua kata yang sering dipakai bersaman. Seperti redaksi bahasa arab ini, fulaan husnu al-khalq wa al-khuluq yang artinya “si fulan baik lahirnya juga batinnya”. Sehingga yang dimaksud dengan kata “al-khalaq” adalah bentuk lahirnya. Sedangkan al-khuluq adalah bentuk batinnya.
Hal ini karena manusia tersusun dari fisik yang dapat dilihat dengan mata kepala, dan dari ruh yang dapat ditangkap dengan batin. Masing-masing dari keduanya memiliki bentuk dan gambaran, ada yang buruk ada pula yang baik. Dan ruh yang ditangkap oleh mata batin itu lebih tinggi nilainya dari fisik yang ditangkap dengan penglihatan mata. Yang dimaksud dengan ruh dan jiwa di sini adalah sama.
Kata al-khuluq merupakan suatu sifat yang terpatri dalam jiwa, yang darinya terlahir perubahan-perubahan dengan mudah tanbpa memikirkan dan merenung terlebih dahulu.
Jika sifat yang tertanam itu darinya terlahir perbuatan-perbuatan baik dan terpuji menurut rasio dan syariat, maka sifat tersebut dinamakan akhlak yang baik. Sedangkan jika yang terlahir adalah perbuatan-perbuatan buruk, maka sifat tersebut dinamakan dengan akhlak yang buruk.
Al-khuluq adalah suatu sifat jiwa dan gambaran batinnya. Dan sebagaimana halnya keindahan bentuk lahir manusia secara mutlak tak dapat terwujud hanya dengan keindahan dua mata, dengan tanpa hidung, mulut dan pipi. Sebaliknya, semua unsur tadi harus indah sehingga terwujudlah keindahan lahir manusia itu. Demikian juga, dalam batin manusia ada empat rukun yang harus terpenuhi seluruhnya sehingga terwujudlah keindahan khuluq “akhlak”. Jika keempat rukun itu terpenuhi, indah dan saling bersesuaian, maka terwujudlah keindahan akhlak itu. Keempat rukun itu antara lain:
1)Kekuatan ilmu
2)Kekuatan marah
3)Kekuatan syahwat
4)Kekuatan mewujudkan keadilan di antara tiga kekuatan tadi

1)Kekuatan Ilmu
Keindahan dan kebaikannya adalah dengan membentuknya hingga menjadi mudah mengetahui perbedaan antara juur dan dusta dalam ucapan, antara kebenaran dan kebatilan dalam beraqidah, dan antara keindahan dan keburukan dalam perbuatan.
Jika kekuatan ini telah baik, maka lahirlah buak hikmah, dan hikmah itu sendiri adalah puncak akhlak yang baik. Seperti difirmankan Allah SWT.,
“…..Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak ….” (Al-Baqarah: 269).
2)Kekuatan marah
Keindahannya adalah jika mengeluarkan marah itu dan penahannya sesuai tuntutan hikmah.
3)Kekuatan syahwat
Keindahan dan kebaikannya adalah jika ia berada di bawah perintah hikmah. Maksudnya perintah akal dan syariat.

4)Kekuatan mewujudkan keadilan di antara tiga kekuatan tadi
Adalah kekuatan dalam mengendalikan syahwat dan kemarahan di bawah perintah akal dan syariat.
Perumpamaan akal adalah seperti seorang pemberi nasihat dan pemberi petunjuk
Kekuatan keadilan adalah kemampuan, dan perumpamaannya adalah seperti pihak yang menjadi pelaksana dan pelaku bagi perintah akal.
Dan kemarahan adalah tempat yang padanya dilaksanakan perintah tadi itu. Perumpamaannya adalah seperti anjing pemburu, yang perlu dilatih, sehingga gerak-geriknya sesuai dengan perintah, bukan sesuai dengan dorongan syahwat dirinya.
Sementara perumpamaan syahwat adalah seperti kuda yang ditunggangi untuk mencari hewan buruan, yang terkadang jinak dan menuruti perintah, dan terkadang pula binal.
Siapa yang dapat mewujudkan kesimbangan unsur-unsur tadi, ia pun menjadi sosok yang berakhlak baiks secara mutlak. Sementara orang yang hanya dapat mewujudkan keseimbangan sebagian unsur itu saja, maka ia menjadi orang yang berakhlak baik jika dilihat pada segi yang baik itu saja, seperti orang yang sebagian wajahnya indah, sementara sebagian lainnya buruk.
Keindahan kekuatan kemarahan dan keseimbangannya digambarkan dengan keberanian
Keindahan kekuatan syahwat dan keseimbangannya digambarkan dengan sifat iffah menjaga kesucian diri
Jika kekuatan marah seseorang cenderung ke arah bertambah maka ia dinamakan dengan tahwwur ‘sembrono’. Sedangkan, jika cenderung melemah dan berkurang maka dinamakan pengecut. Jika kekuatan syahwat cenderung bertambah maka ia dinamakan serakah, sedangkan jika cenderung melemah dan berkurang dinamakan statis.
Yang terpuji adalah sikap seimbang yang merupakan keutamaan, sedangkan dua sikap yang cenderung bertambah dan melemah adalah dua hal yang tercela. Sedangkan keadilan, jika ia terluput maka ia tak mempunyai dua sisi ekstrem, berlebihan atau kurang, tapi ia mempunyai satu lawan dan antonimnya, yaitu kezaliman.
Sementara hikmah, tindakan menguranginya ketika menggunakannya dalam perkara-perkara yang tidak baik dinamakan kebusukan dan kerendahan. Sementara tindakan berlebihan padanya dinamakan kedunguan. Maka sikap pertengahannyalah yang dinamakan dengan hikmah. Dengan demikian, pokok-pokok utama akhlak ada empat, yaitu: Hikmah, keberanian, iffah, menjaga kesucian diri, dan keadilan.
Hikmah adalah kondisi kekuatan kemarahan yang tunduk kepada akal, dalam maju dan mundurnya.
Kesucian diri adalah melatih kekuatan syahwat dengan kendali akal dan syariat.
Keadilan adalah kondisi jiwa dan kekuatannya memimpin kemarahan dan syahwat, dan membimbingnya untuk berjalan sesuai dengan tuntutan hikmah, juga memegang kendalinya dalam melepas dan menahannya, sesuai dengan tuntutan kebaikan. Dari keseimbangan pokok-pokok tersebut, terwujudlah seluruh akhlak yang mulia.

2.Menurut Muhammad bin Ali Asy-Syariif al-Jurjani
Al-Jurjani mendefinisikan akhlak dalam bukunya, at-Ta’rifat sebagai berikut:
“Khlak adalah istilah bagi sesuatu sifat yang tertanam kuat dalam diri, yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa perlu berfikir dan merennung. Jika sifat tersebut terlahir perbuatan-perbuatan yang indah menurut akal dan syariat, dengan mudah, maka sifat tersebut dinamakan dengan akhlak baik. Sedangkan jika darinya terlahir pebuatan-perbuatan buruk, maka sifat tersebut dinamakan akhlak yang buruk”
kemudian Al-Jurjani kembali berkata “Kami katakan akhlak itu sebagai suatu sifat yang tertanam kuat dalam diri, karena orang yang mengeluarkan derma jarang-jarang dan kadang-kadang saja, maka akhlaknya tidak dinamakan sebagai seorang dermawan, selama sifat tersebut tak tertanam kuat dalam dirinya.
Demikian juga orang yang berusaha diam ketika marah, dengan sulit orang yang akhlaknya dermawan, tapi ia tidak mengeluarkan derma. Dan hal itu terjadi kemungkinan karena ia tidak punya uang atau karena ada halangan.
Sementara bisa saja ada orang yang akhlaknya bakhil, tapi ia mengeluarkan derma, karena ada suatu motif tertentu yang mendorongnya atau karena ingin pamer
Dari pemaparan tadi tampak bahwa ketika mendefinisikan akhlak, al-Jurjani tidak berbeda dengan definisi Al-Ghazali. Hal itu menunjukan bahwa kedua orang ini mengambil ilmu dari sumber yang sama, dan keduanya juga tidak melupakan Hadits yang menyifati akhlak yang baik atau indah bahwa akhlak adalah apa yang dinilai oleh akal dan syariat.

3.Menurut Ahmad bin Musthafa (Thasy Kubra Zaadah)
Ia seorang ulama ensiklopedia – mendefinisikan akhlah sebgai berikut; “Akhlak adalah ilmu yang darinya dapat diketahui jenis-jenis keutamaan. Dan keutamaan itu adalah terwujudnya keseimbangan antara tiga kekuatan, yaitu; kekuatan berfikir, kekuatan marah, kekuatan syahwat.
Dan masing-masing kekuatan itu mempunyai posisi pertengahan di antara dua keburukan, yakni sebagai berikut:
Hikmah, merupakan kesempurnaan kekuatan berfikir, dan posisi pertengahan antara dua keburukan, yaitu: kebodohan dan berlaku salah. Yang pertama adalah kurangnya Hikmah, dan yang kedua adalah berlebihan.
Keberanian. Adalah kesempurnaan kekuatan amarah dan posisi pertengahan antara dua keburukan, yaitu kebodohan dan berlaku salah. Yang pertama adalah kurangnya keberanian dan yang kedua adalah berlebihan keberanian.
Iffah adalah kesempurnaan kekuatan sahwat dan posisi pertengahan antara dua keburukan, yaitu kestatisan dan berbuat hina. Yang pertama, adalah kurangnya sifat tersebut, sedangkan yang kedua adalah berlebihnya sifat tersebut.
Ketiga sifat ini, yaitu Hikmah, keberanian dan iffah, masing-masing mempunyai cabang, dan masing-masing cabang tersebut merupakan tersebut merupakan posisi pertengahan anatara dua keburukan. Sedangkan sebaik perkara adalah pertengahnnya. Dan dalam ilmu akhlak disebutkan penjelasan detail tentang hal-hal ini.
Kemudian cara pengobatannya adalah dengan menjaga diri untuk tidak keluar posisi dari posisi pertengahan, dan terus berada di posisi pertengahan itu
Topik ilmu ini adalah insting – insting diri, yang membuatnya berada di posisi petengahan antara sikap mengurangi dan berlebihan
Para ahli Hikmah berkata kepada Iskandar, “Tuan raja, hendaknya anda bersikap pertengahan dalam segala perkara. Karena berlebihan adalah keburukan sedangkan mengurangi adalah kelemahan”
Manfaat ilmu ini adalah agar manusia sedapat mungkin menjadi sosok yang sempurna dalam perbuatan-perbuatannya, sehingga di dunia ia berbahagia dan di akherat menjadi sosok yang terpuji

4.Menurut Muhammad bin Ali al-Faaruqi at-Tahanawi
Ia berkata, “Akhlak adalah keseluruhannya kebiasaan, sifat alami, agama, dan harga diri
Menurut definisi para ulama, akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam diri dengan kuat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa diawalai berfikir panjang, merenung dan memaksakan diri. Sedangkan sifat-sifat yang tak tertanam kuat dalam diri, seperti kemarahan seorang yang asalnya pemaaf, maka ia bukan akhlak. Demikian juga, sifat kuat yang justru melahirkan perbuatan-perbuatan kejiwaan dengan sulit dan berfikir panjang, seperti orang bakhil. Ia berusaha menjadi dermawan ketika ingin di pandang orang. Jika demikian maka tidaklah dapat dinamakan akhlak.
Segala tindakan mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu seperti Qudrat ‘kemampuan’ berbeda dengan dudrat, yaitu ia tidak wajib ada bersama makhluk ketika ia mengerjakan sesuatu seperti wajibnya hal itu menurut para ulama Asy’ari dalam masalah Qudrat
Kemudian at-Tahanawi berkata,
“Akhlah terbagi atas hal sebagai berikut
Keutamaan, yang merupakan dasar bagi apa yang sempurna
Kehinaan, yang merupakan dasar bagi apa yang kurang
Dan selain keduanya yang menjadi dasar bagi selain kedua hal itu”
Penjelasannya adalah bahwa jiwa yang mampu berbicara, ketika berkaitan enggan fisik dan Pengendalian atas fisik, serta memerlukan tiga kekuatan
Pertama, kekuatan yang mampu memikirkan apa yang dibutuhkan dalam membuat perencanaan dan aturan. Yang dinamakan dengan kekuatan akal, kekuatan berbicara, insting, dan jiwa yang tenang dan dikatakan pula sebagai kekuatan yang menjadi dasar untuk memahami hakikat-hakikat, keinginan untuk memperhatikan akibat-akibat setiap perbuatan, dan membedakan antara yang mendatangkan manfaat dan mengasilkan kerusakan.
Kedua, kekuatan yang mendorong seseorang untuk mendapatkan apa yang memberi manfaat bagi fisiknya dan cocok dengannya, seprti makanan, minuman dan lainnya, dan hal itu dinamakan dengan kekuatan syahwat, unsur hewani dan nafsu amarah
Ketiga, kekuatan yang dapat menghindari seseorang dari sesuatu yang dapat merusak dan membuat pedih tubuhnya, dan hal itu dikatakan pula sebagai dasar untuk maju dalam keadaan sulit, dan pendorong untuk berkuasa dan meningkatkan derajat diri. Kekuatan ini dinamakan dengan kekuatan amarah dan ganas, serta nafsu lawwanah.
Kemudian ia berkata bahwa dari keseimbangan kondisi kekuatan instingtif lahirlah Hikmah, Hikmah itu adalah suatu keadaan kekuatan akal praktis yang berada pada posisi pertengahan antara berfikir terlalu mengkhayal kondisi berlebih dari kekuatan ini, yaitu ketika seseorang menggunakan kekuatan pemikiran untuk memikirkan apa yang tak seharusnya dipikirkan, seperti perkara-perkara yang mustasyaabihat ‘samat’ dan bentuk yang tak seharusnya sperti menyalahi syariat. Dan antara kebodohan dan kedunguan yang merupakan kondisi kekurangan Hikmah, yaitu ketika seseorang mematikan kekuatan berfikirnya secara sengaja. Dan berhenti dari mendapatkan ilmu-ilmu yang bermanfaat.
Keseimbangan kekuatan syahwat melahirkan sifat iffah menjaga kesucian diri iffah itu sendiri adalah kekuatan syahwat yang moderat antara bertindak berlebihan dan melanggar etika sifat kurangnya berarti jatuh dalam terus mengikuti dorongan merasakan kelezatan apa yang ia senangi, dengan kesatisan sifat lebihnya iffah yang merupakan kondisi vakum dari usaha mendapatkan kelezatan sesuai dengan kadara yang diperbolehkan akal dan syariat. Dalam sifat iffah tersebut nafsu syahwat tunduk terhadap kekuatan Pikiran
Kesimbangan kekuatan marah melahirkan keberanian. Keberanian itu adalah suatu kondisi kekuatan marah, yang bersifat moderat antara tindakan sembrono yang merupakan kondisi berani yang berlebihan yaitu maju untuk melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan dengan sifat pengecut, sikap khawatir atas apa yang tak seharusnya dikhawatirkan, dan ia adalah kondisi kurang berani.
Dalam kekuatan keberanian ini, sifat buas menjadi tunduk kepada kekuatan berfikir, sehingga maju dan mundurnya kekuatan ini sesuai dengan pertimbangan pemikiran, tanpa mengalami kebingungan ketika menghadapi masalah-masalah besar, dan karena itu perbuatannya menjadi indah dan kesabarannya menjadi terpuji.
Jika keutamaan yang tiga itu bercampur, maka terjadilah dari percampuran itu kondisi yang sama, yaitu keadilan. Karena hal ini, maka keadilan digambarakan sebagai sikap tengah atau moderat, dan itulah yang dimaksud dengan Sabda Rasulullah sawa ini
“Paling baik perkara adalah yang pertengahan”
Kemudian at-Tahanawi meneruskan perkataannya, dan ia pun berbicara tentang akhlah yang agung, ia berkata bahwa akhlak agung bagi para shalihin adalah berpaling daru dua semesta, dan menghadap hanya kepada Allah semata secara total.
Al-Wasithi berkata bahwa akhlak yang agung adalah tidak memusuhi dan tidak dimusuhi
Athaa berkata bahwa akhlak yang agung adalah melepaskan pilihan dan penolakannya atas segala kesulitan dan cobaan yang diturunkan Allah SWT.
Akhlak yang agung bagi Nabi SAW adalah yang disinyalir dalam firman Allah SWT
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar-benar berbudi pekerti yang agung” (al-Qalam:4) dans sesuai yang dikatakan oleh Aisyah r.a bahwa akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an, yang bertindak sesuai dengan Al-Qur’an dan telah tertanam kuat dalam diri, sehingga beliau menjalaninya tanpa kesulitan.

5.Kesimpulan
Para ulama Islam yang menulis tentang akhlak itu menjelaskan bahkan menkankan pa yang diperhatikan oleh para penulis barat, yaitu bahwa akhlak yang baik adalah apa yang dinilai baik oleh akal dan syariat. Sedangkan akal saja tak cukup untuk menilai baik dan buruknya suatu perbuatan. Oleh karena itu, Allah mengutus para Rasul dan menurunkan pertimbangan (Kitab Suci) bersama mereka yang memperlakukan manusia dengan penuh keadilan
Demikianlah, ukuran akhlak yang baik jika sesuai dengan syariat Allah. Berhak mendapatkan ridha-Nya dan dalam memegang akhlak yang baik ini sambil memperhatikan pribadi, keluarga, dan masyarakat, sehingga di dalamnya terdapat kebaikan dunia dan akherat
Sub judul ini berbicara tentang segi etimologi pendidikan akhlak, maka kami masih perlu penjelasan dimensi-dimensi maknawi bagi pendidikan bagi pendidikan akhlak ini.

MAKALAH AQIDAH TENTANG RUKUN IMAN

Published April 30, 2008 by Admin

CREATED : Drs. Abd. Rohim
School : PASCA STAIN Cirebon
Editor : Anakciremai 2006

IMAN KEPADA ALLAH SWT

A. Sifat-Sifat Allah SWT
1. Allah Bersifat Wujud (Ada), Mustahil Adam (Tidak Ada)
Allah SWT bersifat wujud atau ada, lawannya tidak ada (Adam). Adanya Allah SWT dapat dibuktikan dengan akal, yaitu dengan melihat dan memikirkan semua yang ada atau yang terjadi di alam semesta ini. bila kita perhatikan kejadian dan kerja dari organ-organ tubuh manusia, maka pasti terpikir bahwa semua itu pasti ada yang mengatur atau menjadikannya. Demikian pula halnya dengan alam semesta ini. Kiranya tidak dapat diterima oleh akal bila alam ini menjadikan dirinya sendiri. Jika tadinya alam itu belum ada, kemudian menjadikan dirinya sendiri, maka akal sehat tidak dapat menerima bila sesuatu yang belum ada akan dapat membuat atau menjadikan sesuatu.
Kiranya tidak dapat diterima oleh akal, apabila benda tersebut terjadi sendirinya tanpa ada yang mengadakan atau menjadikan sebagaimana tidak mungkin bahwa sesuatu itu tidak ada yang membuatnya. Demikian juga dengan keteraturan alam, adanya pergeseran siang dan malam secara teratur, keteraturan peredaran matahari pada sumbunya, keteraturan peredaran planet-planet, adanya hukum-hukum alam, semuanya menunjukan adanya dan yang mengatur itu adalah Allah SWT.
Firman Allah SWT:

ذلِكُمْ اللهُ رَبُّكُمْ لاَإِلهَ إِلاَّ هُوَ خُالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوْهُ وَهُوَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ (الأنعام: 102)
Artinya: (yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu, tidak ada Tuhan selain Dia. Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia dan adalah pemeliharan segala sesuatu (Al An’am: 102)

2. Allah Bersifat Qidam (Dahulu), Mustahil Khudus (Didahului)
Allah SWT bersifat Qidam atau dahulu. Lawannya bersifat baru atau ada yang mendahului. Hal ini dapat dilihat dengan contoh yang sederhana, yaitu rumah, rumah dibuat oleh manusia. Adanya rumah itu setelah adanya manusia (tukang). Dengan kata lain tukang lebih dahulu ada dari rumah yang dibuatnya.
Oleh karena itu Allah SWT yang menciptakan alam dengan segala isinya ini telah lebih dahulu ada dari alam yang diciptakan-Nya, adanya Allah SWT tidak berpermulaan dan tidak berpengakhiran.
Allah SWT adalah Maha Azali, yaitu sudah ada sebelum adanya sesuatu apapun selain dari Dia, dan akan terus ada.
Allah SWT berfirman:

هُوَاْلأَوَّلُ وَاْلأَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَاْلبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ (الحديد: 3)
Artinya: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (Al Hadid: 3)

3. Allah Bersifat Baqo (Kekal) Mustahil Fana (Binasa)
Allah SWT adalah khaliq (Pencipta) dan alam adalah makhluk (yang diciptakan). Allah SWT sebagai pencipta segala sesuatu mempunyai sifat Baqo, yaitu kekal selama-lamanya. Semua yang ada di dalam ini dapat rusak, binasa, mati, dan musnah, akan tetapi firman Allah SWT tetap, tanpa mengalami perubahan.
Firman Allah SWT:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَافَانٍ (26) وَّيَبْقى وَجَْهُ رَبِّكَ ذُواْلجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ (27) (الرحمن: 26-27)
Artinya: (26) Semua yang ada di bumi itu akan binasa (27) dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar-rahman: 26-27)

4. Allah Bersifat Mukhalawatul Lil Hawaditsi (Berbeda Dari Semua Makhluk), Mustahil Mumasalatsu Lil Hawaditsi (Ada Yang Menyamai-Nya)
Allah SWT berbeda sifat-Nya dengan makhluk. Hal ini mudah dipahami karena Allah adalah Pencipta semesta alam, sehingga mustahil Pencipta sama dengan yang diciptakan.
Firman Allah SWT:

لَيْسَ كَمِثْلِه شَيْئٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ اْلبَصِيْرُ (السورى: 11)
Artinya: …… Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan dia dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat (Asy Syura: 11)

5. Allah Bersifat Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri), Mustahil Qiyamuhu Lighairih (Bergantung Pada Sesuatu)
Allah bersifat berdiri sendiri, lawannya berdiri dengan bantuan atau tergantung pada yang lain.
Telah diketahui bahwa Allah adalah pencipta alam dengan segala isinya. Ini berarti bahwa dalam penciptaan alam tersebut tidak ada yang membantunya. Allah lah yang menjadikan sesuatu. Memang tidak ada sesuatupun yang dapat membantu Allah, tidak ada sesuatu makhluk yang dapat menolong Allah sebab Allah Maha Kuasa dan Maha Perkasa, sedang segala sesuatu selain Allah, adalah makhluk yang lemah dan mustahil menolong pencipta Nya.
Firman Allah SWT:

….وَلاَيَئُوْدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ اْلعَلِيُّ اْلعَظِيْمُ (البقرة: 255)
Artinya: Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi Lagi Maha Besar (Al Baqarah: 255)

6. Allah Bersifat Wahdaniat (Esa), Mustahil ‘Adadun (Berbilang)
Agama Islam mengajarkan bahwa Allah SWT itu Esa, lawannya terbilang yaitu lebih dari satu, baik Dzat-Nya, sifat-Nya maupun perbuatan-Nya.
Esa dalam Dzat-Nya ialah bahwa Dzat atau substansi Allah itu tidak tersusun dari beberapa bagian, tidak terdiri atas beberapa unsur atau elemen dan tidak dapat dibagi atau diukur.
Allah SWT adalah Dzat yang Mutlak, tidak dapat disamakan dengan apapun, tidak mungkin di lihat dengan mata, tidak dapat diraba dengan tangan, tidak dapat diketahui dengan pancaindera manusia, juga tidak dapat diukur dengan alat apapun juga, karena Dia lain sekali dengan apapun yang ada.
Firman Allah SWT:

قُلْ هُوَاللهُ أَحَدٌ (1) اَللهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًأَحَدٌ (4)
(الاخلاص: 1-4)
Artinya
1. Katakanlah; Dialah Allah, Yang Maha Esa
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.
(Al-Ikhlas: 1-4)

7. Allah Bersifat Qudrat (Maha Kuasa), Mustahil ‘Ajzun (Lemah Atau Tidak Berkuasa)
Allah SWT, bersifat maha kuasa, lawannya lemah, terbatas tidak berkuasa. Qudrat artinya kekuasaan yang penuh dan mutlak. Allah Maha Kuasa artinya hanya Allah saja yang berkuasa. Sedang selain Allah, sebenarnya tidak mempunyai kekuasaan apa-apa.
Kekuasaan Allah tidak hanya dalam hal membuat dan menghidupkan saja, melainkan juga berkuasa meniadakan atau menghilangkan (mematikan). Dalam melaksanakan kekuasaan-Nya itu tidak ada satupun yang dapat memaksa melarang atau menghalangi. Allah Maha Kuasa, tidak lemah sedikitpun dalam melaksanakan sesuatu.
Firman Allah SWT:

…. إِنَّكَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ (ال عمران: 26)
Artinya: .. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu (Ali Imran: 26)

8. Allah Bersifat Irradiate (Bekehendak), Mustahil Karahah (Terpaksa)
Sifat berkehendak, lawannya adalah terpaksa. Artinya bahwa Allah dalam menjadikan sesuatu adalah menurut rencana dan kehendak-Nya.
Sifat Qudrat sangat erat hubungannya dengan sifat Iradat. Segala yang telah dan akan dijadikan oleh Allah adalah karena kehendak (Iradat) Allah sendiri. Tidak ada yang mencampuri atau yang mempengaruhi-Nya.
Sesuatu yang dikehendaki cukup hanya berfirman maka terjadilah sesuatu yang dikehendaki-Nya itu
Allah SWT berfirman:

إِنَّمَاأَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْأً أَنْ يَّقُوْلُ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ (يس: 86)
Artinya: Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya “Jadilah!” maka terjadilah ia (Yasin: 82)

9. Allah Bersifat Ilmu (Maha Mengetahui), Mustahil Jahlun (Tidak Tahu Atau Bodoh)
Allah bersifat Maha Mengetahui, lawannya tidak tahu. Ilmu Allah tidak ada batasnya, karena Allah yang menjadikan alam semesta ini, sehingga Allah mengetahui segala sesuatu, baik nyata maupun yang tidak nyata.
Allah Maha berilmu dan sumber ilmu. Sedangkan manusia hanya diberi sedikit ilmu oleh Allah sebagaimana Firman-Nya dalam Al-Qur’an:

وَمَآأُوْتِيْتُمْ مِّنَ اْلعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً (الاسراء: 85)
Artinya: ….Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit (Al Isra: 85).

10. Allah Bersifat Hayyun (Hidup), Mustahil Mautun (Mati)
Allah SWT bersifat hayat atau hidup, lawannya mati atau maut. Kehidupan Allah adalah sempurna dalam arti Dia hidup untuk selama-lamanya (hidup yang sempurna), tidak seperti hidupnya manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan, serta benda lain yang mengalami kebinasaan. Hidup yang menjadi sifat Allah tidak sama dengan semua makhluk. Allah Maha Hidup dalam hidup yang sempurna. Dia tidak mati dan tak akan mati selamanya. Dia kekal, kalau Ia mati atau hidup, tentu tidak akan ada makhluk hidup.
Firman Allah SWT:

وَتَوَكَّلْ عَلَى اْلحَيِّ الَّذِيْ لاَيَمُوْتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفى بِه بِذُنُوْبِ عِبَادِه خَبِيْرًا (الفرقان: 58)
Artinya: Dan bertakwalah kepada Allah, Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati dan bertasbihlah dengan memuji-Nya can cukuplah dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. (Al Furqon: 58)

11. Allah Bersifat Sama’ (Mendengar), Mustahil Asham (Tuli)
Allah SWT bersifat Mendengar (Sama’), lawannya tuli. Mendengar Allah tidak sama dengan mendengar manusia. Pendengaran manusia dapat mengalami gangguan, seperti menjadi tuli dan tidak dapat mendengar. Ketajaman pendengaran manusia terbatas dan tidak sama dengan satu dengan yang lainnya.
Allah Mendengar dan Maha Mendengar, tidak ada suara yang tidak didengar oleh Allah. Walaupun manusia ratusan jumlahnya dan semua bersuara dalam waktu yang bersamaan, namun semuanya dapat didengar oleh Allah. Tidak ada kesulitan bagi Allah mendengar semua suara walaupun suara itu sangat lemah. Bahkan suara hati manusia akan didengar oleh Allah. Orang yang beriman kepada Allah niscaya akan merasa senang dan tenang, karena tidak khawatir bahwa do’a atau permohonannya tidak didengar oleh Allah. Allah SWT itu sangat dekat dan Maha Mendengar.
Firman Allah SWT:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرهمُ اْلقَوَاعِدَ مِنَ اْلبَيْتِ وَإِسْمعِيْلُ‘ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ (البقرة :127(
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah berserta Ismail (seraya berdo’a) “Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui” (Al – Baqarah: 127)

12. Allah Bersifat Bashar (Melihat), Mustahil A’ma (Buta)
Allah SWT bersifat Maha Melihat, lawannya buta. Melihat-Nya Allah adalah sempurna terhadap apa yang ada di alam ini.
Firman Allah SWT:

إِنَ الله َ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّموتِ وَاْلأَرْضِ وَاللهُ بَصِيْرٌ بِمَّا تَعْمَلُوْنَ (الحجرات:18)
Artinya: Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al Hujurat: 18)

13. Allah Bersifat Kalam (Berfirman), Mustahil Abkam (Bisu)
Allah SWT bersifat kalam, lawannya bisu. Kalam Allah adalah sempurna. Terbukti dalam firman-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an yang sempurna.
Firman Allah atau wahyu Allah adalah sumber ilmu. Perlu diketahui bahwa Kalam Allah tidak sama dengan perkataan manusia. Oleh karena itu tidak ada bahasa manusia yang dapat menggantikan bahasa (Kalam) Allah, karena Kalam Allah itu bersih dari segala kata manusia.
Firman Allah SWT:

…. وَكَلَّمَ اللهُ مُوْسى تَكْلِيْمًا (النساء: 164)
Artinya: ..Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (An-Nisa:164)

B. Asmaul Husna
Asmaul Husna adalah nama-nama yang baik dan merupakan sifat-sifat Allah SWT. Nama-nama yang baik dan merupakan sifat Allah SWT banyak kita jumpai dalam Al-Qur’an.
Di antara nama – nama Allah SWT yang sekaligus juga merupakan sifat-sifat Allah SWT ialah:

1. Al Adlu (Adil)
Allah SWT adalah Maha Adil terhadap makhluk-Nya, terbukti dalam segala hal, baik yang menyangkut urusan keduniaan maupun urusan akherat.
Sebagai contoh: Dalam segi ibadah, Allah tidak membedakan si kaya dan si miskin, antara pejabat dengan staf dan sebagainya, akan tetapi yang berbeda di sisi Allah SWT, ialah kadar ketaqwaannya.
Allah SWT Berfirman:

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَآئِ ذِى اْلقُرْبى وَيَنْهى عَنِ اْلفَحْسَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَ كَّرُوْنَ (النحل: 90)
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (An Nahl: 90)

2. Al Ghaffaru (Pengampun)
Al Ghaffaru merupakan sifat Allah SWT yang artinya pengampun. Maghfirah (ampunan) Allah selalu dilimpahkan kepada makhluk-Nya yang berbuat, serta mengakui salah, baik kecil maupun besar, serta mau bertobat.
Allah Maha pengampun kepada makhluk-Nya, pintu maghfirah selalu terbuka bagi hamba-Nya yang memohon.
Allah SWT berfirman :

رَبُّ السَّموتِ وَاْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَااْلعَزِيْزُ اْلغَفَّارُ (ص:66)
Artinya: Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya yang Maha perkasa lagi Maha Pengampun (Shad: 66)

3. Al Hakim (Bijaksana)
Di antara sifat Allah SWT adalah Al Hakim yang artinya bijaksana. Kebijaksanaan Allah SWT kepada makhluk-Nya tidak terbatas kepada bentuk ciptaan-Nya saja, akan tetapi mencakup dalam segala hal, selalu bijaksana. Sebagi contoh : Segala yang diperintahkan oleh Allah SWTAllah SWT baik yang menyangkut ibadah maupun muamalah dan sebagainya, tentu mengandung hikmah dan bila dikerjakanakan akan mendapat pahala. Sebaliknya apa-apa yang dilarang tentu ada hikmahnya, dan bila ditinggalkan akan mendapat pahala.
Allah SWTAllah SWT berfirman :

هُوَ الّّذِيْ يُصَوِّرُ كُمْ فِى اْلأَرْحَامِ كَيْفَ يَشّآءُ لآَإِلَهَ إلاَّ هُوَ اْلعَزِيْزُ اْلحَكِيْمُ (ال عمران: 6)
Artinya: Dialah yang memebentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ( Ali Imran: 6)

4. Al Malik (Raja)
Al Malik adalah sifat Allah SWT yang berarti raja. Allah merajai segala apa yang adadi alam ini. Sebagai Raja Dia memiliki sifat kekuasaan dan kesempurnaan, tidak seperti raja di dunia ini yang banyak kekurangannya dan kelemahannya. Kalau Allah sudah memutuskan sesuatu, tak ada satupun yang dapat menolaknya, dan kalau Allah melarang sesuatu, tak ada satupun yang dapat mencegahnya.
Allah SWT berfirman :

فَتَعلىَاللهُ اْلمَلِكُ اْلحَقُّ‘ لآَإِلهَ إِلاَّ هُوَ رِبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ (المؤمنون:116)
Artinya : Maka Maha Tinggi Allah, raja Yang Sebenarnya, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia. (Al Mu’minun: 116)

5. Al Hasiib (Pembuat Perhitungan)
Al Hasiib adalah sifat Allah SWT yang maksudnya Pembuat Perhitungan. Segala sesuatu yang diciptakan Allah tentunya sudah diperhitungkan dengan cermat dan tepat. Balasan yang berlipat ganda akan diberikan Allah kepada orang yang bersyukur dan berbuat baik. Perhitungan Allah selalu tepat baik dalam memberi pahala kepada orang yang berbuat kebajikan maupun memberi siksa kepada orang yang ingkar kepada-Nya. Oleh karena itu sebelum melakukan suatu tindakan, kita harus memperhitungkan baik buruknya secara cermat. Sebab Allah SWT akan menghitung semua amal perbuatan kita di dunia ini.
Allah SWT berfirman :

إِنَ اللهَ كَانَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبَا (النساء: 86)
Artinya : Sesungguhnya Allah selalu membuat perhitungan atas tiap-tiap sesuatu (AnNisa: 86)

Juga Firman Allah SWTAllah SWT :

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَه (7) وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرَّايَّرَه (الزلزله: 7-8)
Artinya : (7) Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (8) dan Barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat biji dzarrah pun, niscaya diaa akan melihat (balasan)nya. (Al Zalzalah: 7-8)

C. Fungsi Iman Kepada Allah SWT
Apabila seseorang telah meyakini adanya Allah SWT dan memfungsikan imannya dalam amal perbuatannya serta menempatkan Allah dan segala perintah-Nya di atas segala-galanya, maka kehidupan manusia itu di dunia ini akan memperoleh pegangan hidup yang kokoh. Ia tidak mudah terjerumus ke dalam kesesatan. Ia juga tidak mudah putus asa. Selanjutnya ia akan memiliki akhlak yang mulia, karena ia selalu berpegang kepada petunjuk Allah yang senantiasa menyuruh berbuat baik.
Orang yang memfungsikan iman kepada Allah SWT dalam hidupnya, akan memiliki sikap dan kepribadian sebagai berikut :
1. Menyadari kelemahan dirinya di hadapan Allah Yang Maha Besar, sehingga ia tidak mau berbuat dab bersikap sombong atau takanur serta menghina orang lain.
2. Menyadari bahwa segala yang ia nikmati dalam kehidupan ini berasal dari Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hal ini menyebabkan ia akan menjadi orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah. Ia memanfaatkan segala nikmat Allah sesuai dengan kehendak-Nya.
3. Menyadari bahwa dirnya pasti akan mati dan dimintai pertanggung jawaban tentang segala amal perbuatan yang dilakukan. Hal ini menyebabkan ia senantiasa berhati-hati dalam menempuh liku-liku kehidupan di dunia yang fana ini.
4. Merasa bahwa dirinya selalu dilihat oleh Allah Yang Maha Mengetahui. Ia merasa bahwa pada waktu ia melakukan perbuatan yang buruk, Allah mengetahuinya. Kemudian ia berusaha meninggalkan perbuatan yang buruk, karena dalam dirinya sudah tertanam rasa malu berbuat salah. Ia menyadari bahwa sekalipun tidak ada orang lain yang melihatnya namun Allah Maha Melihatnya.
Dalam suatu riwayat pernah diterangkan, bahwa pada suatu hari khalifah Umar Ibnu Khattab menjumpai seorang anak penggembala kambing. Lalu Khalifah menggodanya. Umar meminta kepada anak gembala itu agar mau menjual seekor kambing kepadanya, berapa saja yang diminta oleh anak itu. Namun anak itu berkata : “kambing itu bukan milikku melainkan milik majikanku”. Lalu Khalifah Umar berkata lagi : “Bukankah majikanmu tidak ada di sini “. Jawab anak gembala tersebut, “ Memang benar majikanku tidak ada di sini dan ia tidak mengetahuinya, namun Allah Maha Mengetahui. Mendengar jawaban anak itu Umar tertegun, karena merasa kagum, atas kualitas keimanan anak itu. Yakni Allah SWT Maha Hadir dan selalu memperhatikan dirinya, sehingga ia tidak berani berbuat keburukan, walaupun tidak ada orang lain yang melihatnya.
5. Sadar dan segera bertaubat apabila pada suatu ketika karena kekhilafan ia berbuat dosa. Ia segera akan memohon ampun dan bertaubat kepada Allah SWT, dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan jahat yang dilakukannya itu, sebagaimana diterangkan dalam Al Qur’an.
Allah SWT berfirman :

وَالَّذِيْنَ إِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوْآأَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوْالِذُنُوْبِهِمْ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوْاعَلى مَافَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ (ال عمران: 135)
Artinya : Dan (Juga) orang0orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui. (Ali Imran: 135)

Akhirnya dapatlah disimpulkan bahwa fungsi iman kepada Allah SWT akan menumbuhkan sikap akhlak mulia pada diri seseorang. Ia akan selalu berkata benar, jujur tidak sombong, dan merasa dirinya lemah di hadapan Allah serta tidak berani melanggar larangan Allah, karena ia mempunyai iman yang kokoh.
Dengan demikian maka iman memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, yakni sebagai alat yang paling ampuh buat membentengi diri dari segala pengaruh dan bujukan yang menyesatkan. Selanjutnya iman juga sebagai pendorong seseorang untuk melakukan segala perbuatan yang shaleh. Perbuatan yang shaleh tidak akan timbul tanpa ada dasar iman. Kalau iman dan amal shaleh ini talah menjadi satu, tertanam dalam dirinya bahagialah hidupnya baik di dunia maupun di akherat. Allah SWT berfirman :

إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ (2) إِلاَّ الَّذِيْنَ أمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصَّلِحَتِ (العصر: 2-3)
Artinya: (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ……… (Al Ashr: 2-3)

Dalam ayat lain diterangkan bahwa Allah SWT, akan memberi pahala berupa syurga kepada orang-orang yang beriman.

إِنُّ اللهَ اَشْتَرَى مِنَ اْلمُؤْ مِنِيْنَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَمنَّةَ …. (التوبة: 111)
Artinya : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang muknim, diri dan harta mereka dengan memberi syurga untuk mereka …. (At-Taubah: 111)

Rangkuman
1. Beriman kepada Allah merupakan rukun iman yang pertama, karena iman kepada Allah adalah yang paling pokok dan mendasari seluruh ajaran Islam yang lainnya.
2. Iman kepada Allah berarti percaya dengan yakin bahwa Allah itu Ada, Kuasa, tidak menyerupai sesuatu, Qidam (adanya tidak didahului oleh sesuatu), Kekal, berdiri Sendiri, Esa, dan seterusnya bersifat dengan segala sifat kesempurnaan dan tidak bersifat dengan segala sifat kekurangan.
3. Untuk mengimani dan mengenal Allah secara benar, telah dijelaskan oleh Allah sendiri dalam firman-Nya yang tercantum dalam Al Qur’an. Demikian pula telah diperkuat dengan bukti-bukti nyata tentang adanya Allah itu melalui jalan memperhatikan ciptaan-Nya yakni alam jagat raya beserta segala isinya.
4. Asmaul Husna adalah nama-nama yang baik dan merupakan sifat Allah yang banyak kita jumpai dalam Al Qur’an. Karena Allah tidak nampak oleh manusia, maka untuk sekedar mendapat pengertian tentang Allah diberitahukanlah sifat-sifat Allah SWT kepada manusia melalui Al Qur’an.
5. Apabila seseorang telah memfungsikan imannya dalam amal perbuatan serta menempatkan Allah dan semua perintah-Nya di atas segala-galanya, maka kehidupan manusia di dunia akan memperoleh pegangan yang kokoh.
6. Mengesakan Allah pada hakekatnya merupakan kebutuhan manusia di dalam menjalani hidupnya di dunia ini, baik secara pribadi maupun dalam hubungannya dengan manusia yang lain dan lingkungannya.

IMAN KEPADA MALAIKAT

A. FUNGSI IMAN KEPADA MALAIKAT
Iman kepada malaikat adalah percaya dan yakin bahwa Allah SWT telah menciptakan malaikat yang diberi tugas melakukan perintah-Nya mengurus alam semesta seperti mengatur hujan, mencabut nyawa, mencatat segala perbuatan manusia. Malaikat sangat patuh dan taat dalam melaksanakan tugasnya. Firman Allah SWT:

لاَيَعْصُوْنَ اللهَ مَآأَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَايُؤْمَرُوْنَ.

Artinya : (Malaikat-malaikat) yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang telah diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkannya (At Tahrim: 6)

Beriman kepada malaikat adalah salah satu iman kepada yang ghaib dan menjadi satu ciri orang yang bertaqwa.
Firman Allah SWT:

ذلِكَ اْلكِتبُ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلمُتَّقِيْنَ (2) الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلوةَ وَمِمَارَزَقْنَهُمْ يُنْفِقُوْنَ (3).

Artinya: Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertawqa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagaian rizkinya yang kami anugrahkan kepada mereka. (Al-Baqarah: 2-3)

Dalam ayat tersebut terdapat kata-kata “ghaib” yaitu segala sesuatu yang diyakini adanya, tidak kelihatan oleh mata kepala dan tidak dapat ditangkap oleh pancaindera lainnya. Malaikat tersebut salah satu dari perkara gaib.
Beriman kepada malaikat dapat meningkatkan nilai manusia yakni meningkatnya pengetahuan indrawinya kepada pengetahuan yang berada di belakang benda atau materi yang disebut dengan pengetahuan metafisika. Dengan pengetahuan metafisika, manusia dapat menampakan kemanusiaanya dengan segala kelebihannya. Manusia dapat memenuhi ketentuan nalurinya yang selalu ingin mengetahui hal-hal yang tidak terjangkau oleh pancainderanya. Jika keinginan itu tidak terpenuhi maka akan terjerumus ke dalam cerita-cerita khurafat dan tahayul, yang pada akhirnya akan diliputi oleh rasa takut yang tidak beralasan, dan untuk menghilangkannya mereka menyediakan sesajian, antara lain melalui upacara “menanam kepala kerbau” yang diyakini dapat menyelamatkan manusia. Oleh karena itu dengan mengimani adanya malaikat dan hal-hal gaib lainnya yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi akan dibebaskan jiwa manusia dari rasa takut yang tak beralasan, khurafat dan tahayul.
Di samping itu beriman kepada malaikat dan sifat-sifatnya akan memberi manfaat yang besar dalam hidup dan kehidupan manusia yang penuh dengan berbagai macam persoalan. Orang Islam akan selalu optimis dan tidak akan ragu-ragu dan gentar dalam mengahadapi setiap masalah, baik ketika seorang diri maupun dalam keadaan bersam-sama, karena beriman kepada Allah dan pembantu-pembantu-Nya (malaikat) yang selalu memberikan pertolongan dan bantuan atas izin Allah SWT.
Firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَا مُوَاتَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَنْ لاَّتَخَافُوْاوَلاَتَحْزَنُوْاوَأَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِى كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ.(فصّلت:3).

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang menyatakan: Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendidiran mereka maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan begembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushilat, 30)

Firman Allah SWT:
لَهُ مُعَقِّبتٌ مِّنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُوْنَهُ مِنْ أَمْرِ اللهِ …

Artinya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya mereka menjaganya atas perintah Allah. (Ar Ra’d, 11)

Selain itu dengan iman kepada malaikat akan menjadikan manusia lebih berhati-hati dalam tindak tanduknya selama di dunia karena mereka yakin ada malaikat yang mencatat dan memeriksa amal perbuatannya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan di alam kubur. Allah SWT berfirman:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحفِظِيْنَ (10) كِرَامًا كَاتِبِيْنَ (11) يَعْلَمُوْنَ مَاتَفْعَلُوْنَ (12) إِنَّ اْلأَبْرَارَ لَفِى نَعِيْمٍ (13) وَإِنَّ اْلفُجَّارَ لَفِى جَحِيْمٍ (14).

Artinya: Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaan itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti, benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. (Al Infithar 10-14)

Sabda Nabi SAW:

قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اْلعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِى قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ وَأَنَّهُ يَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ, أَتَاهُ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُوْلاَنِ لَهُ: مَاكُنْتَ تَقُوْلُ فِىهذَاارلرَّجُلِ لِمُحَمَّدِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَإِنَّمَا الْمُؤْمِنُ فَيَقُوْلُ: أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ, فَيُقَلُ لَهُ: اُنْظُرْإِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ. قَدْ أَبْدَ لَكَ اللهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ اْلجَنَّةِ فَيَرَاهُمَا جَمِيْعًا. (متفقو عليه عن أنس)

Artinya: Nabi bersabda sesungguhnya seorang hamba (yang meninggal) apabila telah diletakan di dalam kubur dan para pengantarnya telah pulang, sesungguhnya ia mendengar bunyi sandal mereka, kemudian datanglah kepadanya dua orang malaikat dan mendudukannya kemudian keduanya bertanya kepadanya (yang meninggal) “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini (Muhammad)”? Sesungguhnya orang mukmin akan menjawab “Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan rasulNya” kemudian dikatakan kepadanya lihat tempatmu di neraka, sesungguhnya Allah telah menggantikan buat kamu tempat di surga. Maka ia melihat keduanya (surga dan neraka). (Muttafaq alaihi dari Anas)

Dalam Hadits lain disebutkan:

يَدْخُلُ مُنْكَرٌ وَنَكِيْرٌ عَلَى الْمَيِّتِ فِى قَبْرِهِ فَيُقْعِدَانِهِ … (رواه الد يلمى عن انس).

Artinya: Munkar dan Nakir masuk menemui orang mati di dalam kuburnya, keduanya mendudukannya (H.R Dailami dari Anas)

Dari uraian di atas dapat dipastikan bahwa iman kepada malaikat mempunyai pengaruh positif dan manfaat besar bagi kehidupan seseorang antara lain:
1. Dapat mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan –perbuatan baik dan mencegah perbuatan-perbuatan buruk.
2. Bersikap hati-hati dalam tingkah lakunya, karena merasa ada yang selalu mengawasinya dan mencatat segala perbuatannya
3. Merasa aman dan tentram hatinya serta optimis dalam hidupnya, karena ia yakin ada malaikat yang mau menolong dan membantunya.

B. KEDUDUKAN MANUSIA DAN MALAIKAT
1. Kedudukan manusia dan malaikat di sisi Allah
Manusia adalah mahluk yang paling mulia di muka bumi ini. alam raya beserta isinya diserahkan kepada manusia untuk diolah dan dimanfaatkan bagi kehidupannya.
Firman Allah SWT:

هُوَ الَّذِى جَعَلَكُمْ خَلئِفَ اْلأَرْضِ قلى فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ …

Artinya: Dialah yang telah menjadikan kamu menjadi khalifah-khalifah di muka bumi, barang siapa yang kafir maka akibatnya akan menimpa dirinya … (Fathir, 39)

Untuk melaksanakan tugas tersebut, manusia telah dilengkapi hawa nafsu dan akal. Tanpa hawa nafsu tidak akan memiliki gairah dalam dinamika hidup. Tanpa akal tidak akan terkendali. Akan tetapi semata-mata akal manusia tidak akan mampu mengendalikan hawa nafsunya dengan baik. Akal kemampuannya terbatas. Sering terjadi hasil temuan pancaindera yang telah dipertimbangkan oleh akal dikalahkan oleh hawa nafsu sehingga yang terjadi adalah perbuatan buruk. Oleh karena itu dengan kasih sayang-Nya Allah SWT mengutus para Rasul kepada seluruh manusia. Tugas para Rasul adalah memberikan bimbingan, tuntunan kepada perbuatan yang baik dan telah digariskan oleh Allah, dan memberi peringatan kepada manusia agar menjauhi perbuatan buruk.
Dalam memberikan bimbingan dan tuntunannya, Rasulullah SAW antara lain menginformasikan bahwa ada makhluk Allah yang sifatnya ghaib bertugas mengawasi semua tindak tanduk perbuatan manusia, yaitu malaikat;
Firman Allah SWT:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَفِظِيْنَ .

Artinya: Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat( yang mengawasi (pekerjaanmu) (Al Infithar 10).

Dalam uraian di atas nampak jelas keterkaitan antara manusia dan malaikat dalam kedudukan dan tugasnya, yaitu manusia sebagai hamba Allah yang bertugas antara lain mengawasi semua perbuatan manusia. Jadi kedudukan manusia di sisi Allah adalah hamba Allah yang bertugas sebagai khalifah-Nya di muka bumi, yang memakmurkan bumi dengan sebaik-baiknya berdasarkan ketentuan yang telah digariskan oleh Allah. Sedangkan malaikat adalah hamba Allah yang bertugas antara lain sebagai pengawas terhadap tugas kekhalifahan manusia di muka bumi.

2. Perbedaan manusia dengan malaikat
Perbedaan manusia dengan malaikat antara lain sebagai berikut:
a. Berbeda dalam asal kejadiannya
Di dalam Al-Qur’an diterangkan dengan jelas asal terjadi manusia yaitu dari tanah liat, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Hijr ayat 26.

وَلَقَدْ خَلَقْنَاالإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُوْنٍ.

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah ciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

Mengenai malaikat. Al-Qur’an tidak menjelaskan asal terjadinya, tetapi menerangkan bahwa malaikat itu dijadikan dari cahaya sebagaimana sabdanya:

خُلِقَتِ اْلمَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْ رٍ وَ خَلَقَ اْلجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّاوُصِفَ لَكُمْ.

Artinya: Malaikat itu diciptakan dari cahaya sedangkan jin dari nyala api, dan Adam dari apa yang telah diterangkan padamu semua (dari tanah). (H.R Muslim dari Aisyah)

b. Berbeda dalam sifat-sifatnya, antara lain malaikat itu makhluk gaib, bukan laki-laki, dan bukan perempuan, bukan banci. Mereka tidak makan, tidak minum, dan tidak menikah atau dinikahi, serta tidak beranak, tidak tidur dan tidak pula ditulis amal perbuatannya, karena mereka bertugas mencatat amal perbuatan manusia, mereka tidak dihisab, bahkan mereka petugas hisab. Mereka tidak ditimbang amal perbuatannya, bahkan tidak pernah berbuat salah atau dosa dan tidak pernah durhaka menentang perintah Allah, sedangkan manusia pada umumnya mempunyai sifat kebalikan dari sifat-sifat malaikat tersebut di atas.

C. Rangkuman
Iman kepada malaikat adalah mengimani bahwa Allah SWT telah menciptakan malaikat dari cahaya, sebagai makhluk gaib, yang tidak pernah mendurhakai Allah dan selalu patuh mengerjakan apa yang diperintahkannya.
Malaikat-malaikat itu diberi tugas oleh Allah SWT antara lain mengawasi perbuatan manusia, mencatat amal perbuatan manusia, mencabut nyawa manusia, menanya manusia di alam kubur, menyampaikan wahyu, menjaga neraka, surga dan lain-lain.
Kedudukan manusia dan malaikat di sisi Allah yakin manusia makhluk Allah yang diciptakan dari tanah, dalam sebaik-baik bentuk dan kejadian, sebagai khalifah di muka bumi, ada yang taat dan ada yang ingkar kepada Allah.
Malaikat makhluk Allah yang selalu taat kepada Allah yang diberi tugas antara lain mengawasi perbuatan manusia.

IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH

A. Kedudukan Kitab-Kitab Allah SWT
Seseorang yang berjalan dijalan raya dan ingin selamat sampai di tujuan’ harus mematuhi aturan-aturan yang berlaku dijalan raya. Adanya rambu-rambu lalu lintas dijalan raya merupakan petunjuk bagi orang yang akan menggunakan jalan raya tersebut. Jika orang mengikuti petunjuk itu, lnsya Allah dia akan selamat dalam perjalanan dan selamat sampai ke tujuan. Sebaliknya jika tidak menuruti aturan yang terdapat di jalan raya itu, maka dia akan mengalami kesulitan bahkan mungkin akan celaka.
Demikian jika ingin selamat dan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat, maka manusia wajib mengikuti dan mematuhi aturan dan petunjuk Allah SWT yang telah dituangkan dalam kitab suci-Nya.
Dengan demikian jelas bagi kita bahwa kedudukan kitab-kitab Allah itu adalah sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia sebagaimana dinyatakan dalam Firman Allah pada Surat Al Baqarah sebagai berikut:

ذلِكَ اْلكِتَبُ لاَرَيْبَ فَيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ (البقرة:2)

Artinya: Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (Al Baqarah: 2)

Sebagai petunjuk dan pedoman hidup maka dalam kitab Allah tersebut dijelaskan tetang tata cara hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan alam lingkungannnya.

1. Hubungan manusia dengan Allah SWT
Hubungan manusia dengan Allah SWT dalam ajaran Islam adalah dalam rangka pengabdian atau penyembahan itu disebut ibadah dan tugas manusia di dunia ini adalah beribadah. Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat adz dzariyat sebagai berikut:

وَمَاخَلَقْتُ اْلجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ (الذاريت: 56)

Artinya: Dan Aku tidak menciptakan Jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzariyat: 56)

Sedangkan inti hubungan Allah dan manusia adalah aturan, perintah dan larangan. Manusia diperintahkan untuk berbuat menurut aturan itu. Jika manusia menyimpang dari aturan itu maka ia akan celaka, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Aturan itupun ada dua macam: pertama, adalah aturan yang dituangkan dalam kitab Al Qur’an dan Hadits Nabi.
Aturan yang dituangkan dalam kitab Al Qur’an dan sunnah Rasul itu misalnya tentang perintah shalat, perintah zakat, perintah puasa, perintah haji, larangan berzina, larangan meminum minuman keras, larangan memakan daging babi, dan lain-lain.
Dalam hal ini manusia disuruh mentaati segala perintah dan menjauhi segala larangan itu. Adapun aturan yang dituangkan dalam bentuk hukum alam (Sunnatullah) itu misalnya api mempunyai sifat membakar, karena itu kalau orang mau selamat janganlah mendekatkan dirinya kepada api; benda yang berat jenisnya lebih tinggi dari berat jenis air dan akan tenggelam dalam air, karena itu manusia yang berat jenisnya lebih berat dari air janganlah masuk ke dalam air laut tanpa alat penampung sebab ia akan celaka (tenggelam). Demikianlah aturan yang dituangkan baik dalam kitab suci (ayat qauliyah) maupun yang dituangkan dalam hukum alam (ayat kauniyah) harus dipatuhi agar orang hidup selamat dan sejahtera di dunia dan di akhirat.
Demikian prinsip ajaran Islam mengenai hubungan manusia dengan Allah yang intinya adalah pengabdian atau penyembahan (ibadah), baik dengan cara yang telah ditentukan Allah maupun yang tidak ditentukan. Dan hubungan Allah dengan manusia yang intinya berisi perintah yang harus dilaksanakan, berupa aturan qauliyah dan kauniyah.

2. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri
Setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat kelak. Untuk mencapai keinginan tersebut tentu diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dari yang bersangkutan. Salah satu caranya adalah membekali diri dengan ilmu pengetahuan sebagaimana dinyatakan dalam Hadits yang artinya: “Mencari dunia dengan ilmu, mencari akhirat dengan ilmu, mencari keduanya juga dengan ilmu”.
Di samping membekali diri dengan ilmu, setiap muslim juga harus mengikuti dan mentaati ketentuan Allah SWT antara lain menjaga diri dari api neraka sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat At Tahrim:

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ أمَنُوْا قُوْآأَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا (التحريم:6)

Artinya: Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (At Tahrim: 6)

Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa menjaga diri dari sentuhan api neraka mengandung pengertian yang sangat luas, antara lain dengan cara menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah dan melakukan segala perbuatan yang diperintahkan Allah.

3. Hubungan manusia dengan manusia
Prinsip dasar ajaran Islam tentang hubungan manusia dengan sesamanya adalah bekerja sama dalam kebaikan, bukan bekerja sama dalam kejahatan. Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al Maidah sebagai berikut:

…. وَتَعَاوَنُوْاعَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْاعَلَى اْلإِثْمِ وَاْلعُدْوَانِ … (المائدة:2)

Artinya: …Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takqwa, dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran …. (Al Maidah: 2).

Perbuatan saling menolong itu dapat terjadi antara sesama individu, antara sesama masyarakat atau antar individu dengan masyarakat. Seseorang yang membantu kesulitan tentangganya adalah contoh tolong menolong menolong antara individu. Bantuan masyarakat kelas menengah kepada golongan masyarakat ekonomi lemah adalah contoh perbuatan tolong menolong antar masyarakat. Sedangkan bantuan beasiswa dari suatu lembaga masyarakat atau dari perorangan kepada seseorang adalah contoh perbuatan menolong antara individu dan masyarakat.
Demikianlah pentingnya ajaran tentang kewajiban saling tolong menolong terutama menolong anak-anak yatim dan fakir miskin. Firman Allah dalam Surat Al-Maun sebagai berikut:

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنَ (1) فَذَلِكَ الَّذِى يَدُعُّ الْيَتِيْمَ (2) وَلاَيَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ (3) فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ (4) الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُوْنَ (5) الَّذِيْنَ هُمْ يُرَآءُوْنَ (6) وَيَمْنَعُوْ نَ الْمَاعُوْنَ (7) (الماعون:1-7)

Artinya: (1) tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (2) itulah orang yang menghardik anak yatim, (3) dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (4) Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (5) yaitu orang-orang yang berbuat riya, (7) dan enggan (menolong dengan0 barang berguna. (Al Maun: 1-7)

Jika seseorang telah memiliki sifat tolong menolong antara sesama manusia, maka dengan sendirinya orang itu akan menjauhi segala bentuk pemerasan, baik secara langsung dan terang-terangan separate penjajahan dan perbudakan, maupun secara tidak langsung seperti mengkesploitasi kebodohan atau kemiskinan orang lain.
Dengan prinsip dasar saling menolong ini, seseorang muslim akan selalu merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Sesuai dengan ajaran agama, ia selalu ingin agar dirinya bermanfaat untuk orang lain dan bukan sebaliknya memeras orang lain untuk kepentingan dirinya. Motivasi luhur ini akan melahirkan harmoni sosial yang amat tinggi.

4. Hubungan manusia dengan alam
Prinsip dasar hubungan manusia dengan alam dan makhluk lain pada dasarnya ada dua macam: pertama adalah kewajiban menggali dan mengelola segala kekayaannya, dan kedua tidak sampai merusak kehidupan umat manusia itu sendiri.
Mengenai prinsip yang pertama, firman Allah dalam Surat Luqman sebagai berikut:

اَلَمْ تَرَوْاأَنَّ اللهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّافِى السَّمَوَتِ وَمَافِى اْلاَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَّبَاطِنَةً .. (لقمان:20)

Artinya: Tidaklah kamu perhatikan, sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin …. (Luqman: 20)

Kemudian dalam surat Hud Allah berfirman:

هُوَ اَنْشَأَكُمْ مِّنَ اْلاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا … (هود:61)

Artinya: …Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya….(Hud:61)

Kedua ayat tersebut memberitahukan kepada kita agar manusia muslim mengelola alam dan memanfaatkannya untuk kehidupan manusia di dunia. Oleh karena itu perlu memperdalam ilmu pengetahuan tentang alam itu dengan segala hukum-hukumnya.
Adapun prinsip dasar yang kedua, yakni agar manusia jangan merusak alam, dinyatakan oleh Allah dalam berbagai ayat dalam Al-Qur’an. Di dalamnya dalam surat Al A’raf dinyatakan sebagai berikut:

… وَلاَتُفْسِدُوْا فِى اْلاَرْضِ بَعْدَإِصْلاَحِهَا… (الاعراف: 56)

Artinya: … Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya …. (Al-A’raf: 56)

Kemudian dalam surat Al Qashas dikatakan:

…. وَأَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ اْلفَسَادَ فِى اْلاَرْضِ إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ اْلمُفْسِدِيْنَ (القصاص: 77)

Artinya: Dan baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (Al-Qashas: 77)
Dalam surat Ar Rum dikatakan lebih jelas lagi sebagai berikut:

ظَهَرَ اْلفَسَادُ فِى اْلبَرِّ وَاْلبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْالَعَلَّهُمْ يَرْ جِعُوْنَ (الروم:41)

Artinya: Telah nampak kerusakan di daratan dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Rum: 41)

Dengan demikian jelaslah bahwa kesadaran untuk melestarikan lingkungan sebagaimana yang dikampanyekan oleh orang modern sekarang ini, sebenarnya telah digariskan oleh Islam sejak lima belas abad yang lalu. Hanya sering kali kita kurang memahami arti dan jiwa dari ayat-ayat Al-Qur’an itu, antara lain karena keterbelakangan, kemiskinan, dan kebodohan umat Islam itu sendiri. Kita sering Bersikap apologetik atau membela diri. Setelah orang ramai berbicara Mengenai pentingnya pelestarian alam, barulah kita mengatakan bahwa hal itupun telah ada pada Al-Qur’an, seharusnya kita menggali dan mengembangkan apa yang dalam Al-Qur’an itu atas inisiatif sendiri, bukan sekedar sebagai reaksi atas kemajuan orang lain.
Demikianlah prinsip dasar hubungan manusia dengan alam sekitarnya, yaitu mewujudkan prinsip pemanfaatan dan sekaligus pelestarian lingkungan alam. Agama memberikan motivasi kepada manusia untuk mewujudkan kedua hubungan itu dengan sebaik-baiknya.

B. Fungsi Iman kepada Kitab-Kitab Allah SWT
Setiap Muslim harus meyakini bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para Rasul sebagai pedoman hidup bagi umatnya masing-masing. Dan Al-Qur’an sebagai kitab umat Allah yang terakhir yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW merupakan pedoman hidup bagi manusia sampai akhir zaman.
Adapun fungsi iman kepada kitab Allah tersebut dapat dilihat antara lain dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagai berikut:

1. Dalam Kehidupan Pribadi
Setiap orang hidupnya pasti mengalami dua hal yaitu: senang dan susah, sehat dan sakit, tenang dan gelisah dan seterusnya. Bagi orang yang tidak mempunyai pedoman hidup, kedua hal tersebut akan dihadapi dengan caranya sendiri. Misalnya pada waktu mendapat nikmat atau kesenangan dia berlebihan dan tidak mau bersyukur. Sebaliknya bila ditimpa musibah dia berkeluh kesah, putus asa bahkan ada sampai yang bunuh diri.
Sedangkan bagi orang yang memiliki pedoman hidup berupa Al-Qur’an akan selalu menyadari dan meyakini bahwa kesenangan dan kesusahan hidup pada dasarnya datang dari Allah SWT. Karena itu bila ia mendapat nikmat ia bersyukur kepada Allah dan bila mendapat kesusahan atau musibah ia tabah dan sabar serta memohon pertolongan Allah. Hal ini membuktikan bahwa meyakini kebenaran kitab Allah sebagai pedoman hidup dapat berfungsi sebagai stabilisator dalam hidup dan kehidupan seseorang.
Dalam kaitan ini Allah SWT berfirman:

ذلِكَ اْلكِتَبُ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ (البقرة: 2)

Artinya: Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (Al Baqarah: 2)

Dalam ayat berikutnya juga dinyatakan:

أُولئِكَ عَلَى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ وَأُولئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ (البقرة:25)

Artinya: Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Al-Baqarah: 5)

2. Dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara
Manusia di samping sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial. Untuk dapat menempatkan diri secara tepat dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara tentu harus memahami tata cara dan ketentuan- ketentuan yang ada dan berlaku dalam masyarakat tersebut.
Bagi orang yang hidupnya senantiasa berpengang teguh pada petunjuk Allah, maka beradaptasi dengan kehidupan masyarakat tidaklah sulit. Karena di dalam petunjuk-petunjuk Allah telah dituangkan dalam Al-Qur’an tersebut telah ada perintah yang mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang baik terhadap masyarakat. Misalnya dorongan untuk saling menghormati dan berbuat baik terhadap tetangga, dorongan untuk mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh penguasa atau ulil amri, dorongan untuk Bersikap toleransi terhadap sesama manusia dan sebagainya.
Dengan kata lain iman kepada kitab Allah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dapat berfungsi sebagai motivator, dinamisator, dan stabilisator sehingga hubungan dengan sesama manusia baik perorangan maupun kelompok akan terjalin secara selaras, serasi dan seimbang.
Dalam kaitan ini Allah SWT berfirman:

يَأَيُّهَاالنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْشَى وَجَعَلْنَكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْاإِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَا اللهِ اَتْقَكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ (الحجرات:13)

Artinya: Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Al Hujurat: 13)

Rangkuman
Manusia dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan di akherat memerlukan pedoman. Pedoman yang dapat mengantar ke arah itu adalah petunjuk Allah SWT yang tertuang dalam Firman-Nya berupa kitab Allah. Oleh karena itu kitab Allah merupakan pedoman hidup manusia baik dalam hubungan dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan sesama manusia maupun dengan alam sekitar.
Sifat hubungan manusia dengan Allah SWT adalah dalam bentuk pengabdian atau ibadah. Sifat hubungan manusia dengan dirinya sendiri ialah memelihara dan meningkatkan nilai iman dan takwa serta amal saleh. Sifat hubungan dengan sesama manusia ialah saling menyayangi, tolong menolong dalam kebaikan dan saling menghormati. Sifat hubungan dengan alam sekitar yaitu memelihara dan memanfaatkannya untuk kemajuan dan kebahagiaan di dunia dan di akherat.
Fungsi iman kepada kitab Allah dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai pedoman baik dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

IMAN KEPADA RASUL ALLAH

1. Imana kepada Rasul
Iman kepada Rasul berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa para Rasul itu adalah orang yang telah menerima wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada umat manusia agar beriman. Para Rasul adalah orang-orang uang dipilih oleh Allah, maka sudah barang tentu mereka adalah orang-orang yang cerdas pikirannya, benar ucapannya, dan terpercaya segala yang disampaikannya. Itulah sebabnya Allah SWT mewajibkan setiap muslim agar beriman kepada semua rasul yang pernah diutus-Nya yakni mempercayai dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah telah mengutus para Rasul dengan membawa kebenaran yang berupa kalamullah meskipun mereka tidak pernah melihat dan tidak pernah hidup bersama mereka. Itu berarti bahwa sebagai orang yang beriman kita harus mampu meladeni kehidupan para Rasul dan membenarkan ajaran-ajaran-Nya
Dalam surat al Baqarah ayat 258 Allah SWT berfirman:

أمَنَ الرَّ سُوْلُ بِمَآاُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَبِّه وَاْلمُؤْ مِنُوْنَ كُلٌّ أمَنَ بِاللهِ وَمَلئِكَتِهِ وِكُتُبِه وَرُسُلِه .. (البقرة: 285)
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman, semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya…”

Dalam Surat An Nisaa ayat 136 Allah SWT juga berfirman.

يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ أمَنُوْا امِنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِه وَاْلكِتبِ الَّذِيْ اَنْزَلَ مِنْ قُبْلُ قلى وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلئِكَتِه وَكُتُبِه وَرُسُلِه وَاْليَوْمِ اْلأَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَللاً بَعِيْدًا (النساء: 136)
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”

2. Nabi dan Rasul
Nabi adalah seorang laki-laki yang mendapat wahyu dari Allah SWT untuk dirinya sendiri tanpa berkewajiban menyampaikannya kepada orang lain. Sedangkan Rasul adalah laki-laki yang mendapat wahyu dari Allah dan wajib menyampaikannya kepada orang lain. Wahyu adalah kalamullah yang diberikan kepada para Nabi atau Rasul, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Jumlah Nabi dan rasul itu sangat banyak, tetapi dalam Al-Qur’an hanya dua puluh lima orang yang diceritakan
Dalam Surat Al-Mum’minun ayat 78 Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلاً مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَاعَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقَصُصْ عَلَيْكَ وَمَالِرِسُوْلٍ اَنْ يَأيَةٍ اِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ فَإِذَاجَاءَ اَمْرُ اللهِ قُضِىَ بِالْحَقِّ وَخَسِرَ هُنَالِكَ اْلمُبْطِلُوْنَ (المؤمن: 78)
“Dan sesungguhnya telah kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak kami ceritakan kepadamu. Tiada dapat bagi Rasul membawa mukjizat melainkan dengan seizin Allah, maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpengang kepada yang batil.”

3. Sikap mengimani Rasul Allah
Beriman kepada Rasul Allah harus dibuktikan dalam sikap hidup sehari-hari. Adapun sikap yang menunjukan iman kepada Rasul Allah antara lain:
a. Meyakininya sebagai teladan hidup. Keyakinan terhadap Rasul sebagai teladan hidup dibuktikan dengan berusaha meneladani sifat-sifatnya sesuai kemampuan yang dimiliki
Allah SWT berfirman

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوااللهً وَاْليَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا (الأحزاب: 21)
“Sesungguhnya telah ada pada )diri) Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak mengingat Allah” (QS. Al Ahzab: 21)

b. Meyakini kebenaran ajaran yang dibawa Rasul. Keyakinan terhadap kebenaran ajaran yang dibawa Rasul harus dibuktikan dalam sikap hidup sehari-hari. Bukti yang dimaksud ialah berusaha dengan Sungguh-sungguh untuk dapat melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang.
Allah SWT berfirman

وَمَا يَنْظِقُ عَنِ اْلهَوى (3) اِنْ هُوَ اِلاَّ وَحْيٌ يُوْحى (4) عَلَّمَه شَدِيْدُ اْلقُوى (5) (النجم: 3-5)
“Dan tiadalah yang diucapkan itu (Al-Qur’an) menurut kemajuan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan oleh Jibril yang sangat kuat.” (QS. An-Najm: 3-5)

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ اْلأَقَاوِيْلِ (44) َلأَ خُذْنَامِنْهُ بِالْيَمِيْنِ (45) ثًمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ اْلوَتِيْنَ (46) (الحاقة: 44-47)
“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagai perkataan atas (nama) kami, niscaya benar-benar kami akan dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya.” (QS. Al Haaqqah: 44-46)

4. Para Rasul sebagai utusan Allah
Pada bagian awal telah dijelaskan bahwa Rasulullah adalah manusia pilihan Allah. Rasul diberi amanat untuk menyampaikan wahyu Allah kepada manusia sebagai petunjuk hidup. Dalam melaksanakan tugas sucinya, Rasul senantiasa menghadapi berbagai rintangan dari umatnya yang belum beriman. Rintangan yang dihadapi para Rasul sering mengancam jiwanya. Dengan demikian tugas Rasul Sungguh berat. Untuk dapat mengatasi umatnya, Rasul diberi mukzijat oleh Allah SWT menjadi bukti kebenaran bahwa dirinya adalah Rasul Allah, dan juga sebagai senjata dalam mengalahkan musuh-musuhnya.
Mukjizat yang diberikan Allah kepada Rasul-nya berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan Rasul. Di antara 25 Rasul yang namanya disebutkan di dalam kitab suci Al-Qur’an, ada 5 Rasul yang mempunyai kelebihan dibanding dengan Rasul-Rasul lain. Kelima Rasul tersebut adalah Nuh as, Ibrahim as, Musa as, Isa as, dan Muhammad SAW. Kelima Rasul tersebut terkenal dengan sebutan Ulul’Azmi (yang memiliki kesabaran dan keteguhan hati).

5. Nabi Isa a.s menurut Al-Qur’an
Nabi Isa as adalah putar Maryam binti Imran. Maryam adalah seorang yang shalihah. Pada suatu hari didatangi malaikat Jibril yang memberitahukan kepada Maryam bahwa Allah SWT. Akan menganugerahkan kepadanya seorang putar. Mendengar berita itu, karena ia merasa belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki. Kemudian Jibril menjelaskan seperti firman Allah SWT. Dalam Surat Maryam ayat 19-21:

قَالَ اِنَّمَااَنَارَسُوْلُ رَبِّكِ ِلأَهَتَ لَكَ غُلمًا زَكِيًّا (19) قَالَتْ اَنَّى يَكُوْنُ لِيْ غُلمٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌ وَلَمْ اَكُ بَغِيًّا (20) قَالَ كَذلِكَ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلُه ايَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ اَمْرً امَّقْضِيًّا (21) (مريم: 19-21)
“Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki suci.” Maryam berkata, “bagaimana akan ada bagi-Ku seorang anak laki-laki sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina.” Jibril berkata, “Demikianlah Tuhanmu berfirman. “Hal itu adalah mudah bagiku, dan agar dapat kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan rahmat dari kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.”

Kelahiran Isa bin Maryam berbeda dengan manusia yang lain. Ketika baru saja lahir, dia sudah dapat berbicara dan menjelaskan kepada manusia bahwa ibunya bukan pezina dan ia (Isa) adalah seorang hamba Allah yang kelak akan menerima sebuah kitab dan menjadi seorang Nabi. Dengan demikian, jelaslah bahwa Nabi Isa as adalah seorang Rasul Allah. Kelahirannya yang tanpa bapak, sudah bisa bicara sejak lahir merupakan tanda kekuasaan Allah dan menunjukan kemahakuasaan Allah SWT. Jika Isa bin Maryam yang lahir tanpa bapak merupakan hal yang luar biasa, maka akan lebih luar biasa lagi akan jika kita menyimak kelahiran Nabi Adam as. Yang tanpa bapak dan tanpa ibu. Sesungguhnya semua itu menjadi bukti kemahakuasaan Allah SWT. Bagi orang-orang yang beriman.

6. Fungsi iman kepada Rasul
Di depan telah dijelaskan bahwa Rasul bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada umat manusia sebagai petunjuk hidup. Oleh sebab itu, orang yang beriman kepada Rasul berarti telah memperoleh petunjuk hidup yang benar sesuai dengan kehendak Allah yang menciptakan dirinya. Apabila manusia telah memperoleh petunjuk hidup yang benar, berarti telah sesuai dengan fitrah sebagai hamba yang ber-Tuhan kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, dikatakan pula bahwa beriman kepada Rasul berarti mengembalikan dirinya kepada fitrahnya sendiri sebagai hamba yang ber-Tuhan kepada Allah.
Allah SWT berfirman:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنَ حَنِيْفًا قلى فِطْرَةُ اللهِ الَّتِى فَطَرَالنَّاسَ عَلَيْهَا (30) (الروم: 30)
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rum: 30)

IMAN KEPADA HARI AKHIR

Hari kiamat diistilahkan dalam Al-Qur’an:
1. Yaumul Qiyamah artinya hari kebangkitan disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 70 kali tersebutkan dalam berbagai surat dan ayat
2. Disebut pula dengan As-Sa’ah artinya waktu disebutkan 40 kali
3. Yaumul Akhir artinya hari akhir disebutkan 20 kali
4. Yaumul Qiyamah artinya hari kehancuran total seluruh alam
5. Yaumul Hisab artinya hari perhitungan semua amal perbuatan manusia
6. Yaumul Diin artinya hari pembalasan semua alam perbuatan manusia

Dari sitilah-istilah tersebut hari kiamat artinya peristiwa besar hancurnya makhluk Allah SWT dan dimulainya babak kehidupan baru sesudahnya
Beberapa pendorong beriman kepada hari akhir adalah:
1. Berdasarkan naluri/fitrah manusia ialah manusia takut mati, karena takut menghadapi pengadilan Tuhan
2. Manusia adalah perpaduan benda dan nyawa atau jasmani dan rohani. Apabila manusia meninggal jasmaninya hancur jadi tanah sedangan rohaninya akan tetap hidup menuju kehidupan abadi
3. menurut akal sehat manusia adalah makluk yang tinggi, mempunyai akal dan budi, apabila manusia meninggal tak mungkin mengalami nasib yang sama dengan hewan atau benda mati. Manusia mempunyai tujuan yang luhur yaitu mempertanggungjawabkan amal perbuatan masing-masing dan selanjutnya akan mendapat ganjaran yang setimpal
4. menurut etika hidup, belum sempurna keadilan dan kebenaran illahi di dunia, tidak sedikit piutang yang belum diterima banyak orang jujur atau berbuat kebajikan yang belum menerima hasil kebijaksanaan dan banyak bajingan dan orang durjana yang lolos dari jaringan hukum.

1. Hari kiamat menurut Al-Qur’an
a. Kiamat Sugra
Yaitu berakhirnya kehidupan masing-masing makhluk atau makhluk menemui kematian atau kepunahan.
Hal itu sesuai dengan firman Allah dalam QS Al-Imran 185:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ط وَاِنَّمَاتُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيمَةِ ط فَمَنْ زُحْزِ حَ عَنِ النَّارِ وَاُمْ خِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَط وَمَا اْلحَيَوَةُ الدُّنْيَااِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ (185)
“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati dan sesungguhnya pada hari kiamat saja lah disempurnakan pahalanya. Barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukan ke dalam surga, sesungguhnya ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tiadalah hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.

b. Kiamat Kubra
Yaitu berakhirnya seluruh kehidupan makhluk secara serempak. Allah tidak memberitahukan kapan datangnya, Al-Qur’an hanya memberi tanda-tandanya atau gambarannya saja.
Di antara gambaran kiamat Kubra difirmankan Allah dalam QS. Al Haqoh 13-15

فَاِذَانُفِخَ فِى الصُّوْرِ نَفْخَةٌ وَّاحِدَ ةٌ (13) وَّحُمِلَتِ اْلاَرْضُ وَاْلجِبَالُ فَدُكَّتَادَكَّةً وَّاحِدَةً (14) فَيَوْمَئِذٍ وَّقَعَتِ الْوَقِعَةُ (15)
“Maka apabila sangsakala ditiup sekali tiupan. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya dalam satu kali benturan, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah.”

2. Qiyamat menurut teori ilmu alam
Setiap orang mukmin yakin datangnya kiamat, akan tetapi datangnya kiamat itu adalah rahasia Allah. walaupun demikian akal Pikiran manusia dapat mengingat atau memikirkan tanda-tanda datangnya kiamat kemudian dijelaskan melalui fenomena alam sehingga menjadi teori alam.
a. Pendapat ahli astronomi, bumi dan planet-planet lain beredar mengelilingin matahari. Peredarannya berjalan rapi, karena diatur oleh Allah SWT. Menjadi sunatullah adanya daya tarik menarik antara bumi dan planet-planet lain dengan pertimbangan yang serasi.
Menurut para ahli ilmu alam daya tarik menarik tersebut tidak selamanya utuh, akan tetapi akan mengalami kendur dan akhirnya habis. Dapat dibayangkan jika daya tarik menarik tidak ada lagi, bumi bertubrukan dengan planet-planet lain atau meluncur dengan kecepatan yang amat tinggi kemudian menubruk matahari, akibatnya segala yang ada akan hancur lebur. Hal ini sesuai firman Allah dalam QS. Al-Qori’ah 1-4
b. Pendapat ahli geologi, bumi berasal dan gas panas yang disebut dengan nebula, jutaan tahun gas panas tersebut mendingin dan akhirnya membeku menjadi zat padat, seperti terdapat pada kulit bumi
Diperut bumi masih menyimpang gas panas yang menurut keadaanya berkembang dan terus mendesak keluar. Kulit bumi tidak akan meletus karena ada tekanan (atmosfer) dari luar. tekanan dari dalam dan tekanan dari luar seimbang, seperti keadaan sekarang ini.
Suatu saat terjadi tekanan gas panas dari dalam bumi, sehingga terjadi letusan gunung-gunung berapi dan gempa bumi.
Setiap benda panas suatu saat akan mendingin, demikian pula gas. Diperut bumi akan mencari dan membeku akibatnya tekanan menjadi berkurang, bahkan akan lenyap sama sekali. Hal ini akan menyebabkan bumi menjadi pecah dikarenakan tekanan atmosfer dari luar, bumipun mengeluarkan isinya. Keadaan demikian sesuai dengan yang diterangkan Allah SWT dalam QS. Al Zalzalah ayat 1-2
c. Pendapat ahli fisika seperti Prof. Ahmad Baiquni mengatakan bahwa letak matahari 150 x 106 km dari bumi, sinar matahari sampai ke bumi dalam waktu 8 menit 20 second.
Garis tengah matahari adalah 1,4 juta km, dan luas permukaannya 4 phi x jari-jari kuadrat yaitu 4 x22 pertujuh x 700.000 x 700.600 km sama dengan 616 x 1010 km
Menurut fisikawan energi matahari yang dipancarkan adalah 5,7 x 1027 kalori permenit yang mampu menyala selama lima puluh milyar tahun dan membawa manfaat besar untuk kehidupan manusia atau makhluk lainnya
Timbul pertanyaan bagaimana jika matahari meredup sehingga kurang cahayanya atau sama sekali tidak bersinar lagi sehingga energi cahaya dan panasnya habis? Hal ini berakibat malam tak berganti siang, tidak ada angin atau tidak ada awan, hujan juga tidak turun, gunung-gunung aktif meletus Ombak akan menggulung daratan, gempapun dimana akibatnya terjadilah kehancuran secara total di bumi. Keadaan demikian difirmankan Allah SWT dalam QS. At Takwir 1-5
Beriman kepada hari akhir, akan memperjelas keyakinan adanya hisab, mizan, surga dan neraka sikap dan perbuatan orang yang beriman kepada hari akhir akan lebih bertanggung jawab dan lebih Berhati-hati serta penuh Perhitungan karena ia berbuat sesuatu itu benar-benar didasarkan atas panggilan iman kepada Allah SWT.
Orang yang beriman kepada hari akhir memiliki sikap optimis dan tawakal kepada Allah SWT. Harapan lebih luas dan lebih panjang, ia yakin bahwa perbuatan manusia di dunia ini akan dipertanggungjawabkan di akherat kelak.
Orang yang beriman kepada hari akhir, akan bersikap soleh dan semua perbuatannya akan bermanfaat bagi manusia lain, karena yang diperbuatnya bukan harinya untuk kepentingan diri sendiri akan tetapi untuk kepentingan masyarakat dan untuk mencari keridhoan Allah SWT.

IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR

1. Qadha dan qadar sering disebut taqdir, beriman kepada taqdir adalah Pokok kepercayaan yang terakhir dalam Islam
Sejak jaman dahulu sampai sekarang manusia masih juga berselisih dalam memahami takdir ini. perbedaan pendapat dalam memahami masalah ini bukanlah hal yang aneh, karena memang masalah takdir adalah masalah gaib di luar jangkauan manusia.
Membicarakan masalah takdir berarti membicarakan “Apakah manusia bebas berbuat ataukah sudah diatur segalanya oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, pemahaman terhadap rukun iman yang keenam ini harus hati-hati agar tidak terjerumus ke dalam aqidah yang keliru.

2. Arti qadha menurut Al-Qur’an
a. Ketetapan hukum berdasarkan ayat

مَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَاقَضَى اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَمْرًااَنْ يَكُوْنَ لَهُمْ اْلخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ (الأحزاب: 26)
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang beriman dan tidak (pula) bagi perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka …” (QS. Al Ahzab: 36)

b. Perintah bagaimana firman-Nya:

وَقَضى رَبُّكَ الاَّ تَعْبُدُوْاإِلاَّ إِيَّاهُ (الاسراء: 23)
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia …” (QS. Al Israa: 23)

c. Arti qadar menurut Al-Qur’an
Kata qadar di dalam Al-Qur’an berarti peraturan (ukuran) yang telah diciptakan Allah untuk menjadi dasar alam ini.
Firman Allah:

اِنَّ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَنهُ بِقَدَرٍ (القمر: 49)
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al Qamar: 49)

3. Beriman kepada qadha dan qadar berarti meyakini bahwa apa-apa yang terjadi di dunia ini menurut kuasa dan kehendak-Nya yang di dalamnya ada hubungan sebab akibat.
4. Fungsi iman kepada qadha dan qadar ialah mendidik manusia agar mampu memiliki sikap dan sifat positif antara lain.
a. Manusia rela menerima kenyataan hidup yang dialami, dengan tetap memiliki semangat usaha yang maksimal, karena yang terjadi di dunia ini ada hubungan sebab akibat
b. Kenyataan hidup yang kurang menyenangkan diyakini bahwa hal itu disebabkan oleh adanya kekurangan pada diri sendiri.
c. Manusia wajib berusaha, sedangkan hasilnya berada pada kuasa Allah dan kehendak-Nya
Firman Allah:

اِنَّ اللهَ لاَيُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْامَابِأَنْفُسِهِمْ (الرعد: 11)
“Sesungguhnya Allah tak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri”. (QS. Ar-Ra’d: 11)
pada ayat lain Allah berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِْلإِنْسَانِ إِلاَّ مَاسَعى(النجم: 39)
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

d. Tawakal
Tawakal ialah berserah diri kepada Allah setelah berusaha secara maksimal. Berserah diri kepada Allah dalam hal ini ialah menunggu dengan hati yang ikhlas terhadap kebijakan Allah dalam menentukan keberhasilan usahanya.
Allah berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجَعَلْ لَهُ مَخَرَجًا وَيَرْ زُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ قلى وَمَنْ يَتَوَ كَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسَبُهُ (الطلاق: 2-3)
“….. barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barang siapa yang Bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya …” (QS. Ath Thalaaq: 2-3)

MAKALAH AQIDAH TENTANG SIKAP DAN PERILAKU ORANG BERIMAN

Published April 30, 2008 by Admin

CREATED : Drs. Abd. Rohim
SCHOOL : PASCA STAIN Cirebon
Editor : anakciremai 2005

SIKAP DAN PERILAKU ORANG BERIMAN

Orang beriman adalah orang yang memiliki landasan hidup yang kukuh dan benar, yakni landasan hidup yang berdasarkan wahyu Allah SWT. Dengan landasan hidup tersebut orang beriman memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan manusia lain. Hidup manusia yang tidak dilandasi iman, tak ubahnya seperti kehidupan hewan ternak, yang hanya makan, minum, bekerja, tidur, dan beranak. Sebaliknya, dengan landasan iman, hidup manusia akan terarah, sesuai dengan yang dihekendaki penciptanya, yakni Allah SWT.

1. Taqwa kepada Allah SWT
Taqwa kepada Allah berarti menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Taqwa juga berarti berhati-hati dalam hidup, yakin menjaga diri dari semua aturan yang diberikan Allah sebagai penciptanya. Taqwa kepada Allah menjadi kewajiban setiap muslim.
Firman Allah

يأَيُّهَا الَّذِيْنَ أمَنُوْااتَّقُوْااللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّاقَدَّمَنْ لِغَدٍِج وَاَتَّقُوْااللهَقلى اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَاتَعْمَلُوْنَ (الحشر:18)
“Hai orang-orang yang beriman, taqwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat). Bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al Hasyr: 18)

يأَيُّهَا الَّذِيْنَ أمَنُوْااتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَ تَمُوْتتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ (ال عمران: 102)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali engkau mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali ‘Imran: 102)

Memperhatikan apa-apa yang telah dikerjakan untuk hari esok berarti mengadakan evaluasi kerja dan mengadakan perencanaan kerja di masa-masa yang akan datang. Hari esok ada dua macam, yakni hari esok yang dekat (di dunia ini) dan hari esok yang jauh (di akherat kelak)

2. Berbuat baik kepada kedua orang tua
Orang tua (ayah dan ibu) adalah orang yang menjadi perantara hidup manusia di dunia. Islam memberi tuntunan bahwa setiap anak wajib berbuat baik kepada kedua orang tuanya, walaupun berbeda agama dengan dirinya sendiri.
Firman Allah:

وَاعْبُدُوْاللهَ وَلاَتُشْرِكُوْابِه شَيْئًا وَبِالْوَالِدِيْنِ اِحْسَانًا (النسائ:36)
“Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukannya-Nya dengan sesuatu apapun dan berbuat ihsanlah (baiklah) kepada kedua orang tua (Ibu bapak0 mu…” (Q.S An – Nissa: 36)

Islam tidak memberi batasan tentang berbuat baik kepada orang tua. Hal ini diserahkan kepada kebijakan manusia (anak) Sesuai dengan Kondisi masing-masing orang tuanya. Islam hanya memberi batasan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua tidak boleh melanggar hak-hak Allah, misalnya dengan cara menyekutukan-Nya.
Apabila kedua orang tua mengajak berbuat maksiat kepada Allah (misalnya menyekutukan-Nya) maka anak tidak boleh mengikuti ajakan tersebut, namun tetap berikap baik kepadanya.
Firman Allah SWT:

وَاِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى اَنْ تُشْرِكَ بِى مَالَيْسَ لَكَ بِه عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَافِىالدُّنْيَا مَعْرُوْفًا
“Dan jika keduanya memaksa kamu untuk mempersekutukan dengan Aku, sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik …” (QS. Luqman: 15).

Di samping wajib berbuat baik, kita dilarang untuk menyakiti hati kedua orang tua, sebagaimana firman-Nya.

…. اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَاَحَدُهُمَاأَوْكِلاَ هُمَافَلاَ تَقُلْ لَّهُمَاأُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْ هُمَاوَقُلْ لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيْمًا (الاسرائ: 23)
“……jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentuk mereka dengan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia:. (QS. Al Israa’: 23)

Apabila kedua orang tua belum Islam, hendaklah dido’akan agar mendapat petunjuk dari Allah sehingga mau masuk Islam. Jika keduanya telah meninggal, hendaklah dido’akan agar mendapat ampunan di sisi-Nya, misalnya dengan lafal do’a:

رَبَّنَااغْفِرْلِى وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ ( ابراهيم : 41)
“Ya Rab kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (QS. Ibrahim: 41)

3. Berbuat baik kepada sesama manusia
Kewajiban berbuat baik kepada sesama manusia telah ditegaskan Allah dalam firman-Nya sebagai berikut:

وَاعْبُدُ اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوْابِه شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَبِذِى اْلقُرْبى وَالْيَتمى وَاْلمَسكِيْنِ وَالْجَارِذِى الْقُرْبى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ اِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالاً فَخُوْرًا ( النساء: 36)
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua (ibu bapak), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, Ibnu Sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Niosaa’: 36)

Selanjutnya Rasulullah SAW. Melarang kepada muslim untuk meremehkan, menyakiti hati dan sebagainya. Sabda Rasulullah SAW.
اَلْمُسْلِمُ اَخُوالْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهَ وَلاَيَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ التَّقْوى هَاهُنَا وَيُشِيْرُ اِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ اَنْ يَحْقِرَاَخَاهُ اْلمُسْلِمَ كُلُّ اْلمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ (رواه مسام )

“(Seorang) muslim adalah saudara bagi muslim (lain), tidak boleh (seseorang) menganiyaya dia, tidak boleh mengecewakan dia, tidak boleh menghinakan dia, Taqwa ada di sini! Dan beliau memberikan isyarat ke dadanya tiga kali sambil bersabda: “Cukup jahat apabila seseorang menghina saudaranya (muslim yang lain). Tiap Muslim terhadap Muslim (yang lain) haram darahnya, harta, dan kehormatannya”. (HR. Muslim)
BERFIKIR POSITIF (QONA’AH)

1. Pengertian:
Rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki sehingga jauh dari sifat kurang yang berlebihan. Orang qona’ah giat bekerja atau berusaha dan bila hasilnya kurang memuaskan, rela menerima dengan syukur kepada Allah. Hikmah qona’ah adalah symbol rasa tentram dalam hidup, sehingga terhindar dari sifat serakah dan tamak.
H.R. Muslim: “Beruntung orang Islam, rezekinya cukup; dan merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah kepadanya”.
Q.S Hud 6: “Dan tidaklah binatang yang melatapun di bumi, kecuali ditentukan rizkinya oleh Allah”.
Jadi dengan demikian orang yang qona’ah adalah yakin akan ketentuan Allah SWT. Pengertian harfiah dan qona’ah adalah menerima cukup/menerima secara puas, apa adanya. Sedang pengertian secara istilah adalah:
a. Menerima dengan rela apa adanya
b. Menerima dengan sabar apa adanya
c. Memohon kepada Tuhan tambahan yang pantas, dan berusaha
d. Bertawakal kepada Allah
e. Tidak tertarik oleh tipu daya manusia

2. Qona’ah dalam kehidupan
a. Pengendalian hidup sehingga tidak turut dalam keputusasaan dan tidak terlalu maju dalam keserakahan
b. Qona’ah berfungsi sebagai stabilisator dan dinamisator dalam hidup
1. Berfungsi sebagai stabilisator
- Berlapang dada dalam situasi dan Kondisi apapun
- Berhati tentram
- Merasa kaya dan berkecukupan dalam hidup sederhana
- Bebas dari keserakahan, karena kekayaan atau kemiskinan terletak pada hati bukan terletak pada harta yang dimiliki
2. Berfungsi sebagai dinamisator artinya qona’ah merupakan kekuatan bathin yang selalu mendorong seseorang untuk meraih kemajuan hidup, berdasarkan kemandirian dan tetap bergantung kepada karunia Allah SWT.
Berkenaan dengan cara hidup qona’ah, marilah kita simak nasehat Nabi SAW kepada hakim sahabat beliau yang segala permohonannya selalu diluluskan, tetapi kali berikutnya Nabi menasehatinya.

يَاحَكِيْمٌ اِنَّ هدَالْمَالَ خُضْرٌ خُلْقٌ, فَمَنْ أَخَدَ هُ بِسَحَاوَةٍ نَفْسٍ بُوْرِكَ لَهُ فِيْهِ فَمَنْ أَخَدَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يَبَارِكْ لَهُ فِيْهِ وَكَانَ كَالَّدِيْ يَأكُلُ وَلاَ يَشْبَعْ وَاْليَدُاْلعُلْيَاخَيْرٌ مِنَ اْليَدِ السُّفْلَ

Artinya: “Wahai hakim sesungguhnya harta itu indah dan manis, barang siapa yang mengambilnya dengan hati yang lapang dan ikhlas niscaya berkah baginya, akan tetapi barang siapa yang mengambilnya dengan hati yang tamak atau rakus, pasti harta itu tidak berkah baginya. Bagaikan orang yang makan yang tidak pernah kenyang-kenyangnya ketahuilah bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Oleh karena itu qona’ah adalah merupakan sikap hati dan mental yang memilikinya diperlukan latihan dan kesabaran. Bila qona’ah dimiliki oleh seseorang niscaya kebahagiaan dunia akan dinikmati dan kebahagiaan akhirat akan tercapai. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Thabrani:
اَلْقَنَاعَةُ كَنْزٌ لاَيَفْنى
Artinya: “Qona’ah itu adalah simpanan yang tak akan pernah lenyap”

Manfaat qona’ah dalam kehidupan:
a. Bagi kehidupan pribadi:
1. Percaya akan kekuasaan Allah SWT
2. Sabar dalam menerima ketentuan Allah SWT
3. Bersyukur bila dipinjami nikmat Allah SWT
4. Berusaha bekerja, berikhtiar dan berdo’a serta tawakal

b. Bagi kehidupan masyarakat:
1. Mengajak tidak membanggakan diri dengan kekayaan sebab akan menimbulkan kecemburuan sosial
2. Membina rasa puas dengan nikmat yang dikaruniakan Allah SWT
3. Menjauhkan sifat rakus dan tamak, hingga akan terhindar dari kehendak untuk mengambil hak orang lain
Dengan demikian, qona’ah adalah salah satu sikap terpuji yang harus dimiliki oleh setiap orang muslim, yaitu sikap rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki serta menjauhkan diri dari sikap tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan
Orang yang qona’ah adalah orang yang selalu giat bekerja dan berusaha, namun apabila hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ia tetap bersikap positif yaitu rela menerima apa yang dihasilkannya dengan penuh rasa syukur dan lapang dada.
Qona’ah berfungsi sebagai stabilisator dan dinamisator hidup seorang muslim. Dengan qona’ah seorang muslim akan bersikap positif terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepadanya, akan terhindar dari sifat-sifat tercela, serakah dan putus asa, serta akan memiliki semangat hidup untuk meraih kemajuan berdasarkan kemampuan diri dan kemandirian.

AKHLAKUL MADZMUMAH

A. Hasud
1. Pengertian Hasud
Hasud berarti membangkitkan hati seseorang supaya marah (melawan, memberontak, dan sebaginya). dalam bahasa Arab disebut hasad yang berarti dengki, sebagai wujud dan akibat rasa iri. Dengan demikian Hasud sama dengan hasad. Orang yang suka berbuat Hasud disebut provokator. Sudah pasti sifat ini amat tercela, baik dalam pandangan Allah maupun sesama manusia.

2. Hasud adalah penyakit masyarakat
Hasutan yang disebarkan oleh provokator sering menimbulkan gangguan dalam kehidupan masyarakat. Perbuatan anarkis yang berupa pengrusakan toko, rumah dan tempat ibadah bahkan juga pembunuhan. Oleh karena sebab itu, jelaslah kiranya Hasud merupakan penyakit dalam kehidupan bermasyarakat, karena menimbulkan kerusakan dan kerugian yang tidak sedikit jumlahnya. Selain merusak tatanan kehidupan bermasyarakat, hasud juga berakibat buruk bagi pelakunya sendiri.

اِيَّا كُمْ وَاْلحَسَدَ فَإِنَّ اْلحَسَدَ يَأْ كُلُ اْلحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ اْلحَطَبَ (رواه أبوداود)
“Jagalah dirimu semua dari sifat dengki, karena kedengkian merusak kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)

B. Ria
1. Pengertian Ria
Ria adalah pamer, yakni berbuat baik dengan maksud ingin memperoleh pujian orang lain. Hal ini tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Islam mendidik umatnya agar melakukan amal baik secara ikhlas, yakin karena Allah. Semata – mata Yang dimaksud karena Allah semata-mata ialah:
a. Melakukan amal baik karena ingin memperoleh ridha Allah SWT
b. Melakukan amal baik karena mentaati perintah Allah SWT
Amal baik yang dilakukan dengan maksud tidak seperti di atas, dinyatakan tidak memperoleh pahala
Rasulullah SAW bersabda:

أِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَاِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَانَوى …. رواه البخارى
“Sesungguhnya amal-amal itu harus dengan niat dan sesungguhnya setiap (amal) seseorang tergantung kepada niatnya…..” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Ria Merusak amal baik
Allah SWT berfirman:

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ أمَنُوْالاِتُبْطِلُوْا صَدَ قَتِكُمْ بِالْمَنِّ وَاْلأَذى كَالّذِيْ يُنْفِقُ مَالَه رِئَاءَ النَّاسِ وَلاَ يُؤْ مِنُ بِااللهِ وَاْليَوْمِ اْلأَخِرِ قلى فَمَثَلُه كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَ كَهُ صَلْدًا قلى لاَيَقْدِرُوْنَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوْا قلى وَاللهُ لاَيَهْدِى اْلقَوْمَ اْلكَفِرِيْنَ (البقراة: 264)
“Hai Orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu tertimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada, orang-orang yang kafir.” (QS. Al Baqarah: 264)
Selain merusak amal baik, ria juga termasuk perbuatan syirik yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW.
Sabda Rasulullah SAW:

اِنَّ اَخْوَفَ مَاأَخَافَ عَلَيْكُمُ اْلشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ : اَلرِّياءُ (رواه احمد)
‘Sesungguhnya sesuatu yang telah aku khawatirkan atas kamu semua perkara yang aku khawatirkan ialah syirik kecil, yakni ria,” (HR Ahmad)

C. Aniyaya
1. Pengertian aniyaya
Aniyaya berarti perbuatan bengis, seperti penyiksaan, penindasan, dan sebagainya. Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di muka bumi yang harus berbuat baik terhadap siapapun, bahkan juga terhadap makhluk selain manusia.
Allah SWT berfirman

اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَآءِ ذِى اْلقُرْبى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَكُمْ تَذَ كَّرُوْنَ (النحل: 90)
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan kepada kaum kerabat dan Allah melarang (kamu) berbuat keji, Munkar, dan permusuhan (aniyaya). Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl; 90)

Ayat di atas membuat tiga perintah dan tiga larangan. Tiga perintah yang dimaksud ialah berlaku adil, berbuat baik, dan membantu kerabat. Tiga larangannya ialah berbuat keji (maksiat yang menjerumus perbuatan zina), Munkar (segala perbuatan buruk yang tidak dapat diterima oleh hati nurani), dan permusuhan.
Aniyaya adalah salah satu bentuk perbuatan yang menimbulkan permusuhan sesama manusia. Oleh sebab itu, perbuatan aniyaya wajib dijauhi oleh setiap orang, terutama muslim.

2. Orang yang teraniyaya memperoleh prioritas dari Allah SWT
Untuk memberikan keadilan kepada manusia Allah SWT memberikan prioritas kepada orang yang dianiyaya bahwa dia tidak berdosa apabila berkata buruk lagi keras.
Firman Allah SWT:

لاَيُحِبُّ اللهُ اْلجَهْرَ بِالسُّوْءِ مِنَ الْقَوْلِ اِلاَّ مَنْ ظُلِمَ قلى وَكَانَ اللهُ سَمِيْعًاعَلِيْمًا (النساء : 148)
“Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang di aniyaya. Allah adalah (yang) Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. An-Nisaa’: 148)

Orang yang diperlakukan secara dhalim diperbolehkan membalas kedhaliman tersebut seberat kadar yang ditimpahkan kepada dirinya.

وَاٍنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوْابِمِثْلِ مَاعُوْقِبْتُمْ بِهِ قلى وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِِصّبِرِيْنَ (النحل: 126)
“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu, akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126)

3. Bahasa perbuatan aniyaya
a. Bagi orang lain
Bahaya perbuatan aniyaya bagi orang lain tergantung pada tingkat aniyaya yang ditimpakan pada dirinya. Sekurang-kurangnya menimbulkan kekecewaan atau sakit hati pihak lain (yang dianiyaya)

b. Bagi pelakunya sendiri
Perbuatan aniyaya menimbulkan kegelapan bagi dirinya di hari kiamat
Rasulullah SAW bersabda:

اَلظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ (رواه البخارى و مسلم)
“Kedhaliman adalah beberapa kegelapan di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

اِتَّقُوالظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ (رواه مسلم)
“Jagalah dirimu dari kedhaliman, karena dhalim adalah beberapa kegelapan di hari kiamat.” (HR. Muslim)

Yang dimaksud kegelapan di hari kiamat adalah dosa yang memberatkan penderitaan seseorang di hari kiamat. Mungkin seseorang masih dapat menyelamatkan diri dari akibat perbuatan dhalim di dunia ini, tetapi tidak demikian halnya di akherat kelak

ADAB BERPAKAIAN, BERHIAS, BERTAMU, DAN MENERIMA TAMU

A. Adab (Tata Krama) Berpakain
1. Fungsi pakaian
Tuntunan Islam mengandung didikan moral yang tinggi. Dalam masalah aurat, Islam telah menetapkan bahwa aurat lelaki adalah antara pusar sampai kedua lutut, sedangkan bagi perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Adanya aturan-aturan dalam berpakaian pada dasarnya untuk menunjang ketiga fungsi berikut ini:
Fungsi pakaian ialah untuk penutup aurat, menjaga kesehatan dan keindahan

2. Islam melarang umatnya berpakaian terlalu tipis dan atau ketat (mepet sehingga membentuk tubuhnya yang asli)
Kendatipun fungsi utama (sebagai penutup aurat) telah dipenuhi, tetapi apabila pakaian yang terlampau tipis, pakaian yang ketat akan menampilkan bentuk tubuh pemakainya, sedangkan pakaian yang terlampau tipis akan menampakan warna kulit pemakainya. Kedua cara tersebut dilarang oleh Islam karena hanya akan menarik perhatian yang menggugah nafsu syahwat bagi lawan jenisnya
Dalam hal ini Rasulullah SAW, telah bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ اَهْلِ النَّارِ لَمْ اَرَهُمَا: قَوْمٌ سِيَاطٌ كَأَذْنَ بِ اْلبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَاالنَّاسَ وَنَسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتُ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوْ سُهُنَّ كَأَ سُنِمَةِ اْلبُخْتِ اْلمَائِلَةِ لاَيَدْ خُلُنَ اْلجَنَّةَ وَلاَيَجِدْنَ رِيْحَهَالَيُوْ جَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَاوَكَذَا (رواه مسلم)
“Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya, yaitu: 1. kaum yang membawa cambuk seperti seekor sapi yang mereka pakai buat memikul orang (penguasa yang kejam): 2. perempuan-perempuan yang berpakain tetapi telanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencenderungkan orang lain kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk onta. Mereka itu tidak akan bisa masuk jamaah (surga) dan tidak akan Mencium bau surga, Padahal bau surga itu dapat tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian.” (HR. Muslim).

3. Kaum lelaki dilarang memakai cincin emas dan pakaian sutra
Khalifah Ali Bin Abi Thalib berkata:

نَهَانِيْ رَسُوْاللهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ التَّخَتُّمُ بِالذَّهَبِ وَعَنْ لِبَاسِ اْلقِسِّىِّ وَعَنْ لِبَاسِ اْلمُعَصْفَرِ (رواه الطبرانى)
“Telah melarang kami Rasulullah SAW, untuk memakai cincin dari emas dan pakaian sutra serta pakaian yang dicelup dengan ashfar.” (HR Tabrani)

Ashfar adalah bahan penguning (semacam wenter berwarna kuning) yang banyak dipakai orang saat itu.
Ibnu Umar meriwayatkan:

رَأَى رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَيَّ ثَوْ بَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ فَقَلَ: اِنَّ هذِهِ مِنْ ثِيَابِ اْلكُفَّارِ فَلاَ تَلْبَسَهَا
“Rasulullah SAW pernah melihat aku memakai dua pakaian yang aku celup dengan ashfar, maka Sabda beliau, ‘Ini adalah pakaian orang kafir, oleh karena itu janganlah engkau Pakai’.”

B. Adab (Tata Krama) Berhias
Pada hakikatnya Islam mencintai keindahan selama keindahan tersebut masih berada dalam batas yang wajar dan tidak bertentangan dengan norma-norma agama. Beberapa ketentuan agama dalam masalah perhiasan ini antara lain sebagai berikut:
1. Laki-laki dilarang memakai cincin emas, sebagaimana larangan yang ditunjukan oleh Rasulullah SAW, terhadap Ali RA.
2. Jangan bertato dan mengikir gigi
Mengikir gigi ialah memendekan dan merapikan gigi (pangkur dalam bahasa Jawa). Mengikir gigi banyak dilakukan oleh kaum perempuan dengan maksud agar tampak rapi dan cantik. Dalam menyikapi hal ini, Rasulullah SAW bersabda:

لَعَنْ رَسُلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اْلوَشِمَةَ وَاْلمُسْتَوْشِمَةَ وَاْلوَاشِرَةَ وَاْلمُسْتَوْشِرَةَ (رواه الطبرانى)
“Rasulullah SAW melaknat perempuan yang menatu dan minta ditatu, yang mengikir dam yang minta dikikir giginya.” (HR Thabrani).

3. Jangan menipiskan alis
Menipiskan alis banyak dilakukan oleh kaum perempuan agar tampak lebih cantik
Dalam sebuah Hadits diriwayatkan:

لَعَنْ رَسُلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم النَّاصِمَةَ وَاْلمُتَنَصِّمَةَ (رواه ابوداود)
“Rasulullah SAW melaknat perempuan-perempuan yang mencukur alisnya dan meminta dicukur alisnya.” (HR Abu Dawud)

4. Jangan menyambung rambut
Rasulullah bersabda:

لَعَنْ رَسُلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اْلوَاصِلَةَ وَاْلمُسْتَوْ صِلَةَ (رواه البخارى)
“Allah melaknat perempuan-perempuan yang menyambung rambutnya dan yang meminta disambung rambutnya.” (HR. Bukhari)

5. Jangan berlebih-lebihan dalam berhias
Yang dimaksud berlebih-lebihan ialah melewati batas yang wajar dalam menikmati yang halal. Berhias secara berlebih-lebihan cenderung kepada sikap sombong dan bermegah-megahan yang amat tercela dalam Islam. Setiap muslim dan muslimat harus dapat menjauhkan diri dari hal-hal yang menyebabkan kesombongan, baik dalam berpakaian maupun berhias dalam bentuk lain.
Memoles wajah dengan bahan (make up) terlampau banyak, mengenakan perhiasan emas pada leher, kedua tangan dan kedua kaki termasuk berlebih-lebihan.
Islam memperbolehkan umatnya berhias secara wajar, tidak berlebih-lebihan yang cenderung kepada sikap sombong dan pamer.

C. Adab (Tata Krama) Bertamu
1. Jangan bertamu pada tiga waktu aurat
Allah SWT berfirman:

يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ أمَنُوْالِيَسْتَأْذِ نَكُمُ الَّذِيْنَ مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ وَالَّذِيْنَ لَمْ يَبْلُغُوْا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَثَ مَرَّاتٍ قلى مِنْ قَبْلِ صَلوةِ اْلفَجْرِ وَحِيْنَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيْرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلوةِ اْلعِشآءِ قلى طَوَّافُوْنَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ قلى كَذلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ اْلأيتِ قلى وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ (النور: 58)
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lekaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari, dan sesudah sembahyang isya, (itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nuur: 58)

Bertamu pada tiga waktu aurat (sebelum subuh, sesudah dhuhur, dan sesudah isya), termasuk perkara yang dicela dalam Islam dan harus dijauhi, kecuali terpaksa (karena ada urusan yang sangat penting.

2. Cara bertamu yang baik
Cara bertamu yang baik menurut Islam antara lain sebagai berikut:
a. Berpakaian yang rapi dan pantas
Bertamu dengan memakai pakaian pantas berarti menghormati tuan rumah dan dirinya sendiri. Tamu yang berpakaian rapi dan pantas akan lebih dihormati oleh tuan rumah, demikian pula sebaliknya.
Allah SWT berfirman:

اِنْاَحْسَنَتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأَِ نْفُسِكُمْ وَاِنْ أَسَأْ تُمْ فَلَهَا … (الاسراء:7)
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka (kejahatan0 itu bagi dirimu sendiri ….” (QS. Al Israa: 7)

b. Memberi isyarat dan dalam ketika datang
Allah SWT berfirman:

يأَيُّهَاالَّذِيْنَ أمَنُوْالاَتَدْ خُلُوْا بُيُوْ تًا غيْرَ بُيُوْتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْ نِسُوْا وَتُسَلِّمُوْاعَلَىأهْلِهَا ط ذلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَكُمْ تَذَكَّرُوْنَ (النور: 27)
“Wahai orang yang beriman janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu supaya kamu selalu ingat.” (QS. An-Nuur: 27)

c. Jangan mengintip ke dalam rumah
d. Minta izin masuk sebanyak-banyaknya 3 kali, apabila sudah mengetuk pintu atau membaca salam tiga kali tidak ada tanggapan dari tuan rumah, harus kembali pulang
e. Memperkenalkan diri secara jelas, baik nama, Alamat (terlebih bila bertamu pada malam hari
f. Tamu lelaki dilarang masuk ke dalam rumah apabila tuan rumah hanya seorang wanita
Rasulullah SAW bersabda:

لاَيَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ اِلاَّ وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ وَلاَ تُسَافِرُ اْلمَرْاَةُ اِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ (رواه البخارى و مسلم)
“Janganlah seorang laki-laki bersepi-sepi bersama perempuan kecuali ia (perempuan tersebut) bersama mahramnya. Jangan pula seorang perempuan berpergian kecuali apabila ia bersama mahramnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

g. Masuk dan duduk dengan sopan
Setelah tuan rumah mempersilahkan masuk, hendaklah tamu masuk rumah dan duduk dengan sopan di tempat yang telah disediakan. Tamu hendaknya membatasi diri, tidak memandang ke mana-mana secara bebas. Pandangan yang tidak dibatasi (terutama bagi tamu asing) dapat menimbulkan kecurigaan bagi tuan rumah. Tamu dapat dinilai sebagai orang yang tidak sopan, bahkan dapat dikira sebagai orang jahat yang mencari-cari kesempatan.

h. Menerima jamuan tuan rumah dengan senang hati
Apabila tuan rumah memberi jamuan, hendaknya tamu menerima jamuan tersebut dengan senang hati, tidak menampakan sikap tidak senang terhadap jamuan tersebut. Jika sekiranya tidak suka dengan jamuan tersebut, sebaiknya berkata terus terang bahwa dirinya tidak terbiasa menikmati makanan dan minuman seperti itu.

D. Adab Menerima Tamu
1. Berpakaian yang pantas untuk menghormati tamu dan diri sendiri
2. Menerima tamu dengan sikap yang baik, sikap bersahabat, jangan sekali-kali memalingkan muka dirinya
3. Menjamu tamu sesuai kemampuannya, tidak mengada-ada yang dapat menyusahkan diri sendiri
Kewajiban menerima tamu adalah sehari – semalam. Selebihnya adalah sedekah bagi tuan rumah
4. antarkan tamu (saat pulang) sampai pintu halaman rumah
5. Wanita yang berada di rumah sendirian dilarang menerima tamu laki-laki masuk ke dalam rumahnya tanpa ada izin sebelumnya dari suami (kecuali masih mahramnya)
Bagi suami pun hendaknya bersikap hati-hati agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan

DISIPLIN

A. Disiplin Dalam Kehidupan Pribadi
Disiplin adalah kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu sistem yang mengharuskan orang untuk tunduk pada keputusan, perintah atau peraturan yang berlaku. Dengan kata lain, disiplin adalah sikap mentaati peraturan dan ketentuan yang ditetapkan, tanpa pamrih.
Dalam ajaran Islam banyak ayat Al-Qur’an dan Hadits, yang memerintahkan disiplin dalam ketaatan pada peraturan yang telah ditetapkan, antara lain surat An-Nisa ayat 59:

ياَيُّهَاالَّذِمْنَ امَنُوْااَطِيْعُوااللهَ وَاَطِيْعُواالرَّسُوْلَ وَاُولِى اْلاَمْرِ مِنْكُمْ … (النساء 59)
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul(Nya) dan ulil amri di antara kamu …” (An Nisa 59)

Disiplin adalah kunci sukses, sebab dengan disiplin akan tumbuh sifat yang teguh dalam memegang prinsip, tekun dalam usaha, pantang mundur dalam kebenaran dan rela berkorban untuk kepentingan pribadi dan kehidupan masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

1. Disiplin dalam penggunaan waktu
Disiplin dalam menggunakan waktu diperhatikan dengan seksama. Waktu yang sudah berlalu tak mungkin akan kembali lagi, hari yang sudah lewat tak akan datang lagi. Demikian pentingnya arti waktu sehingga berbagai bangsa di dunia mempunyai ungkapan yang menyatakan “waktu adalah uang”, peribahasa arab menyatakan “waktu adalah pedang”, dan “waktu adalah emas”, dan kita orang Indonesia menyatakan: “sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tak berguna”
Marilah kita bayangkan, seandainya ada seorang yang pada waktu Belajar di rumah masih terus bermain-main, sebaliknya pada waktu tidur, ia gunakan untuk bergadang semalaman suntuk. Tentu dapat kita lihat bahwa hidupnya menjadi tidak teratur, karena ia tidak pandai menggunakan waktu dengan tepat. Oleh karena itu marilah kita lebih menghargai waktu dengan cara disiplin dalam merencanakan, mengatur, dan menggunakan waktu, yang Allah karuniakan kepada kita tanpa dipungut biaya.
Tak dapat dipungkiri bahwa orang-orang yang berhasil mencapai sukses dalam hidupnya adalah orang-orang yang hidup teratur dan berdisiplin memanfaatkan waktunya. Disiplin tidak akan datang dengan sendirinya, akan tetapi melalui latihan yang ketaatan dalam kehidupan pribadinya.

2. Disiplin dalam beribadah
Menurut bahasa, ibadah berarti tunduk atau merendahkan diri. Pengertian yang lebih luas dalam ajaran Islam, ibadah berarti tunduk dan merendah diri hanya kepada Allah yang disertai perasaan cinta kepada-Nya. Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa disiplin dalam beribadah itu mengandung dua hal:
a. Berpengang teguh terhadap apa yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, baik berupa perintah atau larangan, maupun ajaran-ajaran yang berifat halal, anjuran sunnah, atas makruh dan haram
b. Sikap berpengang teguh yang berdasarkan cinta kepada Allah, bukan karena rasa takut atau terpaksa. Maksud cinta kepada Allah adalah senantiasa taat kepada-Nya, dan taat kepada Rasul-Nya. Perhatikan firman Allah:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِيْبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُوْ نِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْ بَكُمْ قلى وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ (ال عمران: 31)
Artinya: “Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah ikutlah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran 31)

Sebagaimana telah kita ketahui, ibadah itu dapat digolongkan menjadi dua, yakni:
a. Ibadah mahdah (murni) yaitu bentuk ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah
b. Ibadah ghairoh mahdah (selain mahdah), yang tidak langsung dipersembahkan kepada Allah melainkan melalui hubungan kemanusiaan.
Dalam ibadah (disebut juga ibadah khusus) aturan-aturannya tidak boleh semuanya akan tetapi harus mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Orang yang mengada-ada aturan baru, misalnya shalat subuh tiga rakaat atau puasa 40 hari terus menerus tanpa berbuka, adalah orang yang tidak disiplin dalam beribadah, karena ia tidak mematuhi aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, ia termasuk orang yang berbuat bid’ah dan tergolong sebagai orang yang sesat.
Dalam ibadah ghairoh mahdhah (disebut juga ibadah umum) orang dapat menentukan aturannya yang terbaik, kecuali yang jelas dilarang oleh Allah. Tentu saja suatu perbuatan dicatat sebagai ibadah kalau niatnya ikhlas semata-mata karena Allah, bukan ingin mendapatkan pujian orang lain (riya’)

3. Disiplin Dalam Berlalu Lintas
Tanggal 1 Desember 1993 merupakan hari bersejarah dalam berlalu lintas di Indonesia, karena pada tanggal tersebut UU nomor 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya mulai diberlakukan secara efektif di seluruh wilayah nusantara. Dengan Undang-undang tersebut, diharapkan semua warga negara mentaati dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Bagi umat Islam masalah ketaatan terhadap berbagai peraturan termasuk peraturan lalu lintas bukanlah hal yang asing, karena banyak ayat Al-Qur’an dan Hadits yang mengandung perintah untuk bersikap taat.
Firman Allah SWT dalam surat An Nisa 59:

ياَيُّهَاالَّذِمْنَ امَنُوْااَطِيْعُوااللهَ وَاَطِيْعُواالرَّسُوْلَ وَاُولِى اْلاَمْرِ مِنْكُمْ … (النساء 59)
Artinya: “Hai orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya) dan ulil amri di antara kamu …. (An Nisa 59)

Ayat tersebut menegaskan bahwa sebagai orang beriman di samping harus taat kepada Allah dan Rasul-Nya, juga harus taat kepada Pemimpin atau pemerintah. Hal ini dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya yang artinya: “Barang siapa yang taat kepadaku maka ia benar-benar telah taat kepada Allah, dan barang siapa yang durhaka kepadaku maka ia benar-benar telah durhaka kepada Allah. Barang siapa yang taat kepada penguasa maka ia benar-benar taat kepadaku, dan barang siapa yang durhaka kepada penguasa maka ia benar-benar telah durhaka kepadaku”. (H.R Bukhari dan Muslim)
Dalam Hadits lain Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Seseorang muslim wajib mendengar dan taat, baik dalam hal yang disukai maupun hal yang dibencinya, kecuali bila ia diperintah untuk mengerjakan maksiat. Apabila ia diperintah untuk mengerjakan maksiat, maka ia tidak wajib untuk mendengarkan dan taat” (HR. Bukhari dan Muslim)
berdasarkan ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi di atas, jelas sekali bahwa ajaran Islam tentang disiplin mengandung ketaatan pada peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah adalah suatu hal yang harus dilaksanakan yaitu melaksanakan disiplin bukan karena diawasi oleh petugas, tetapi karena merupakan tuntunan ajaran agama.
Oleh karena itu, kita sebagai seorang muslim sekaligus sebagai warga negara yang baik sudah seharusnya ikut aktif dalam menciptakan tertib lalu lintas dengan mematuhi dan melaksanakan segala aturan yang tertuang dalam undang-undang tersebut.

B. Disiplin Dalam Bermasyarakat
Hidup bermasyarakat adalah fitrah manusia. Dilihat dari latar belakang budaya setiap manusia memiliki latar belakang yang berbeda pula. Karenanya setiap manusia memiliki watak dan tingkah laku yang berbeda, namun dengan bermasyarakat, mereka tentu memiliki norma-norma dan nilai-nilai kemasyarakatan serta peraturan yang sedang disepakati bersama, yang harus dihormati dan dihargai serta ditaati oleh setiap anggota masyarakat itu. Kita sebagai manusia yang lahir sebagai bangsa Indonesia yang religius dan berfalsapahkan pancasila, tentunya kita harus mentaati dan mematuhi nilai-nilai dan norma-norma serta adat yang berlaku pada masyarakat kita. Sesuai dengan naluriah kemanusiaan, tiap anggota masyarakat ingin lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya
Sekiranya tidak ada aturan yang mengikat di antara mereka dalam bermasyarakat dari ketentuan yang telah digariskan oleh agama, niscaya kehidupan mereka akan kacau balau, karena setiap pribadi dan kelompok akan membanggakan diri pribadi dan kelompoknya masing-masing.
Berdasarkan kenyataan ini, maka agama Islam menegaskan bahwa manusia yang paling berkualitas di sisi Allah bukanlah karena keturunan atau kekayaan, akan tetapi berdasarkan ketaqwaannya. Ketaqwaan yang merupakan perwujudan dari kedisiplinan yang tinggi dalam mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan – larangan-Nya, bukanlah suatu pembawaan dan bukan pula suatu harta pustaka yang dapat diwariskan melalui garis keturunan
Agama Islam mengibaratkan anggota masyarakat itu Bagaikan satu Bangunan yang di dalamnya terdapat beberapa komponen yang satu sama lain mempunyai fungsi yang berbeda – beda, manakala salah satu komponen itu rusak, maka seluruh Bangunan itu akan rusak atau binasa. Hadits Nabi SAW menegasakan:

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدَّ بَعْضُهُ بَعْضًا, وَشَبَّكَ بَيْنَ اَصَابِعِهِ (رواه البخارى و مسام والترمذى)
Artinya: “Seorang mu’min dengan mu’min lainnya Bagaikan Bangunan yang sebagahagian dari mereka memperkuat bahagian lainnya. Kemudian beliau menelusupkan jari-jari yang sebelah ke jari-jari tangan sebelah lainnya”. (H.R Bukhari Muslim dan Turmuzi)

C. Disiplin Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Negara adalah alat untuk memperjuangkan keinginan bersama berdasarkan kesepakatan yang dibuat oleh anggota atau warga negara tersebut. Tanpa adanya masyarakat yang menjadi warganya, negara tidak akan terwujud. Oleh karena itu masyarakat prasarat untuk berdirinya suatu negara. Tujuan dibentuknya suatu negara ialah agar seluruh keinginan dan cita-cita yang diidamkan oleh warga negara yang dapat diwujudkan dan dapat dilaksanakan. Anggota masyarakat suatu negara adakalanya mempunyai latar belakang budaya dan agama yang sama, dan ada pula yang terdiri atas budaya dan agama yang beragam. Dalam membentuk negara yang baik, beragamnya budaya bukanlah merupakan persoalan. Karena keberadaan latar belakang budaya tidak akan menghambat suatu masyarakat untuk membangun negaranya. Bahkan dengan adanya perbedaan tersebut semakin memperkaya perbendaharaan pemikiran dan pengetahuan suatu masyarakat. Kunci keberhasilan suatu negara terletak pada kedisiplinan berupa kesetiaan dan kesungguhan warga negaranya melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Berkaitan dengan hal di atas maka di negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, sudah selayaknya jika umat Islam mempelopori meningkatkan disiplin nasional dalam bentuk mematuhi segala peraturan perundang-undangan yangberlaku, sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing-masing.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,730 other followers